FILM “GURU TUGAS”
KRITIK GAGAL
Akhir-akhir ini,
dunia perkontenan di Madura semakin marak dan sudah mengalami perkembangan yang
cukup signifikan. Meskipun perkembangan tersebut diukur dari kacamata orang
awam dalam dunia perfilman, namun perkembangan itu perlu kiranya terus
diupayakan untuk berkembang lebih baik dan tidak menerjang sistem nilai atau etika
yang mengakar di Madura.
Masyarakat Madura dihebohkan dengan dirilisnya film pendek oleh channel Akeloy Production, salah satu channel youtube, asal Bangkalan, Madura, yang memproduksi berbagai series short movie. Film pendek ini viral lantaran beberapa adegan (scane), latar (di pesantren), tokoh (guru tugas) dianggap tidak menggambarkan latar dan tokoh sesungguhnya yang lazim di Masyarakat, dianggap menghina pesantren dan juga dianggap menampilkan adegan yang tidak mencerminkan kultur masyarakat Madura.
Pada dasarnya, sebuah karya (apapun
bentuknya) jika menampilkan sesuatu yang diadopsi dari budaya lain yang berseberangan
dengan nilai yang dianut dan dipegang oleh masyarakat dimana karya itu
ditampilkan maka karya hanyalah karya yang tidak memiliki nilai di masyarakat
tersebut.
Pada artikel ini, penulis akan mengurai kritik terhadap film pendek berjudul (Guru Tugas 2) secara objektif pada Scane hubungan badan dan pengaruh film terhadap masyarakat dengan penggunaan latar (pesantren) dan tokoh (guru tugas).
Berbagai adegan di film
Guru Tugas 1 dan 2 merupakan gambaran dari karakter masyarakat Madura. Banyak scane
menggambarkan kondisi sosial masyarakat Madura saat ini. Mulai dari tokoh Klebun
(kepada Desa) dengan karakter khasnya dan lainnya. Namun ada adegan yang kurang
merepresentasikan masyarakat Madura. Adegan yang menjadi sorotan hingga viral
adalah scane (pemerkosaan) yang ditampilkan agak detail posisi dan
grakannya. Sayangnya, adegan tersebut diperankan oleh seorang tokoh
Ustadz, guru tugas, walaupun pada akhirnya bagian itu sudah
cut (dipotong).
Adegan tersebut saat ini lumrah ditampilkan dalam sebuah film, khususnya film barat.
Namun perlu disadari bahwa adegan sebuah film merepresentasikan budaya atau
realitas masyarakat dimana kisah dari alur film itu diangkat. Di Madura,
menceritakan atau memperbincangkan perihal hubungan intim adalah suatu yang tabu. Hal tersebut disebabkan karena realitas masyarakat Madura yang
menganggap tabu menceritakan detail aktivitas tersebut kepada orang lain baik
dengan sengaja atau tidak. Menceritakan dan memperbincangkannya saja tabu
apalagi memvisualisasikannya.
Di film Hollywood yang
sarat dengan adegan hubungan badan bertujuan salah satunya untuk menggambarkan kultur
atau realitas orang barat dimana hubungan laki-laki dan perempuan tidak lengkap
jika tidak diakhiri dengan berhubungan badan. Dalam buku Menguak Peta
Perfilman Indonesia disebutkan bahwa film yang menonjolkan kekerasan dan
kekejaman dalam menyelesaikan masalah serta tema seks yang cukup menonjol
ditambah lagi mempertontonkan adegan seks di luar nikah merupakan penggambaran
tingkah laku atau kultur orang Barat (Amerika Serikat dan Eropa)
Produser channel
Akeloyproduction menampilkan adegan hubungan badan tidak hanya di film dengan
Judul Guru Tugas saja tetapi di beberapa film lainnya meskipun tidak sevulgar yang ditampilkan di film Hollywood. Kendati
demikian, vulgar tidaknya adegan yang ditampilkan, tetap saja adegan tersebut
tidak pantas ditampilkan di film yang pemirsanya tidak memiliki kultur demikian.
Dalam memproduksi film, seyogyanya produser film di Madura (khususnya produser
di channel Akeloyproduction) mempertimbangkan aspek sosio-kultural orang
Madura dalam menyusun naskah film. Sehingga tujuan dibuatnya film dan respon
masyarakat terhadapnya berkesinambungan satu sama lain.
Cerita di film “Guru
Tugas 2” diambil dari kisah nyata dari seorang
(sebut saja Fulan) yang kebetulan diberi mandat untuk menjadi guru tugas oleh
sebuah pesantren. Si fulan memiliki jejak buruk di tempat ia melaksanakan
tugas. Jejak buruk yang dimaksud adalah menghamili muridnya sendiri, padahal si
Fulan (yang digambarkan di film) adalah pribadi yang memiliki kelilmuan yang
cukup dan tatakrama yang baik di masyarakat yang ternyata berseberangan dengan
kenyataan. Kisah si Fulan itulah yang menginspirasi produser untuk membuat film
ini. Tidak diketahui secara pasti apa tujuan produser mengangkat fenomena ini
ke permukaan padahal kisah ini sarat akan subjektifitas terhadap guru tugas.
Subjektifitas dalam
film ini tampak pada judul film. Kata “guru tugas” merupakan kata yang menggambarkan
guru tugas secara general. Sehingga, apapun yang divisualisasikan dalam film berdampak
terhadap pandangan dan pemahaman masyarakat terhadap guru tugas. Apa yang
ditampilkan dapat dipahami secara general sebagai prilaku, tindakan dan sifat
guru tugas. Film mengandung ideologi pembuatnya yang dapat mempengaruhi
pandangan masyarakat terhadap suatu hal. Film dapat pengaruh dari referensi
kultur pembuatnya, sehingga sangat subjektif dalam merepresentasikan kondisi di
sekitarnya.
Karya seni,
khususnya film, merupakan sarana komunikasi sebuah gagasan baru dalam menilai dan merubah
gagasan lama. Gagasan adanya penugasan guru merupakan gagasan baru dalam dunia
pendidikan di Indonesia. Perjalanan gagasan tersebut memberikan dampak yang
signifikan dalam peningkatan kualitas pendidikan masyarakat, khususnya masyarakat
pedalaman yang sulit dijangkau oleh pendidikan formal negeri. Dampak yang
signifikan ini perlu diapresiasi sebagai gagasan cemerlang yang datang dari pesantren
disamping lembaga formal negeri yang belum dapat melaksanakan gagasan tersebut.
Melalui pesan suara
yang beredar, salah satu tim AkeloyProduction menyebutkan bahwa film “guru
tugas” bertujuan untuk mengungkap fakta bahwa ada guru tugas yang memiliki
karakter sesuai dengan yang divisualisasikan dalam film. Dalam penjelasannya,
ia menyebut bahwa film ini adalah sebagai kritik terhadap kondisi tersebut. Hal
tersebut baik karena kritik itu penting.
Guru tugas juga perlu dikritik dan guru
tugas tidak boleh antikritik, baik dari kritik terhadap kualitas keilmuan ,
karakter dan sikap yang dimiliki seorang guru tugas yang lemah. Ada hal yang luput
dari perhatian produser dalam film ini tentang realitas guru tugas saat ini yakni
betapa banyak guru tugas yang memberikan dedikasi yang luar biasa kepada
masyarakat di tempat tugasnya.
Namun, lagi-lagi,
produser abai akan respon masyarakat terhadap karya yang dibuat yang bukan
berdasarkan pengkajian secara mendalam dalam menyusun naskah. Pemilihan kisah,
penentuan latar, pengambilan shot, dan penentuan sikap tokoh dalam film
menjadikan film “guru tugas” gagal dalam menyampaikan kritik. Subjektifitas dan
kurangnya penyesuaian isi cerita dengan realitas masyarakat menjadikan film ini
dikecam oleh berbagai elemen masyarakat. Kritik dalam film ini sungguh bersifat
subjektif dan kurang dikemas sedemikian rupa sehingga kritik bisa tersampaikan
dengan baik.
Penulis berharap,
produser dan tim yang mendukung pembuatan film ini tidak terjebak pada arus kapitalisme
produksi film yang hanya mementingkan seberapa besar profit yang didapat. Karena
disadari atau tidak, media, tak terkecuali film, adalah bagian dari industri
budaya, yang hampir serupa dengan pabrik dalam memproduksi barang-barang, yang
digunakan untuk “memanipulasi” masyarakat menjadi pasif
Referensi
Hakim, N.
(2021). Film dan arah kebudayaan. Jakarta: Institut Kesenian Jakarta.
Novi Kurnia, B. I. (2004). Menguak Peta Perfilman
Indonesia. Yogyakarta: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Rl Jurusan
llmu Komunikasi, FISIPOL, Universitas Gadjah MadaFakultas Film dan Televisi,
lnstitut Kesenian Jakarta.
Parastyo, M. A. (2022). Analisis Semiotika kritik Sosial
dalam Film Parasite. Makassar: Universitas Hasanudin.

Komentar
Posting Komentar
Terimakasih telah memberikan komentar!
Akan kami tanggapi komentar anda dalam waktu dekat.