"Dek, tidak usah kau tangisi. Ini adalah jalan takdir kita. Cinta kita tidak bisa berlabuh di satu dermaga. Tuhan menggariskan jalan yang berbeda dengan apa yang telah kita rencanakan. Aku, kamu, Abi dan ayahmu tidak bisa menentang kehendak-Nya" ucap Hasul pada Azizah sehari sebelum pernikahannya dengan Dani.
----
Mohammad Hasul dan Muhammad Nor Hasan adalah nama lengkap dua sahabat itu. Muhammad Hasul biasa dipanggil Hasul dan Muhammad Nor Hasan biasa dipanggil Nusa. Hasul dan Nor Hasan adalah teman karib sejak di kampung. Mereka sekolah TK, dan SD di sekolah yang sama dan melanjutkan sekolah SMP dan SMA di pondok pesantren yang sama.
Mohammad Hasul dan Muhammad Nor Hasan adalah nama lengkap dua sahabat itu. Muhammad Hasul biasa dipanggil Hasul dan Muhammad Nor Hasan biasa dipanggil Nusa. Hasul dan Nor Hasan adalah teman karib sejak di kampung. Mereka sekolah TK, dan SD di sekolah yang sama dan melanjutkan sekolah SMP dan SMA di pondok pesantren yang sama.
Suka duka ketika masih di kampung dan ketika di pondok pesantren dilalui bersama. Selain karena mereka masih satu pertalian keluarga, mereka memiliki cita-cita yang sama yaitu bermanfaat untuk lingkungan mereka di manapun mereka hidup.
Mereka mondok di sebuah pesantren yang masih baru berdiri. Namanya Pondok Pesantren Al-Salam. Namun, meskipun baru berdiri, banyak orang dari berbagai daerah ingin sekali memondokkan putranya ke pondok itu sebab pengasuh pondok itu memiliki metode sendiri dalam mengajarkan santrinya dalam membaca kitab.
Karena masih baru, pondok pesantren itu masih menerima santri putra. Tidak hanya itu, pondok pesantren Al-Salam juga mengutus beberapa santrinya yang sudah lulus SMA dan sudah menyelesaikan dua buku metode khusus baca kitab ke berbagai daerah di Indonesia. Banyak pondok pesantren luar yang merasakan mudahnya metode baca kitab itu dipahami oleh pemula. Sehingga beberapa pengasuh pondok-pondok itu datang sendiri ke pondok Al-Salam untuk menjemput santri yang ingin diutus.
Karena masih baru, pondok pesantren itu masih menerima santri putra. Tidak hanya itu, pondok pesantren Al-Salam juga mengutus beberapa santrinya yang sudah lulus SMA dan sudah menyelesaikan dua buku metode khusus baca kitab ke berbagai daerah di Indonesia. Banyak pondok pesantren luar yang merasakan mudahnya metode baca kitab itu dipahami oleh pemula. Sehingga beberapa pengasuh pondok-pondok itu datang sendiri ke pondok Al-Salam untuk menjemput santri yang ingin diutus.
"Nusa, tidak terasa, ya. Ternyata sudah enam tahun kita di pondok ini. Besok pagi kita sudah harus menuju tempat tugas masing-masing. InsyaAllah malam ini, setelah sholat isya', pengumuman tempat dimana pondok pesantren kita bertugas nanti akan dipajang di Mading madrasah" ucap Hasan saat keduanya hendak berangkat ke Musjid untuk sholat Maghrib berjamaah.
"Iya, Hasul. Tanggung jawab kita di tempat tugas nanti sungguh sangat berat. Kita dituntut untuk harus bisa segala hal di sana. Berinteraksi dengan pengasuh dan keluarga, berinteraksi dengan santri-santri dan berinteraksi dengan masyarakat luas. Padahal, aku merasa, bekal yang sudah aku kumpulkan selama enam tahun ini masih sangat jauh dari cukup. Tanggung jawab kita yang paling berat dari itu semua adalah bahwa kita menjadi wakil dari pak kiyai dalam menyebarkan ilmu, nasehat dan pelajaran-pelajaran lainnya. Aku takut ceroboh dalam bersikap."
"Sungguh berat memang, Nusa. Tapi, kita harus percaya bahwa barokah ilmu yang beliau berikan kepada para santri, termasuk kita, akan senantiasa mengalir sampai selesai masa tugas nanti asalkan kita ikhlas," sambung Hasul sebelum hendak naik ke Masjid.
Bersambung..😊

Komentar
Posting Komentar
Terimakasih telah memberikan komentar!
Akan kami tanggapi komentar anda dalam waktu dekat.