Kucing Itu Mutawakkil


(Image:ayobandung.com)
baca juga: Baju Baru (taqwa)

Jarum jam bergerak menuju arah pukul setengah 1 kurang seperempat dini hari. Hawa sejuk berubah menjadi udara dingin. Dinginnya mampu menyelinap masuk ke dalam selimut sarung yang digunakan para santri untuk tidur di emperan pondok. 

Suara gesekan sendal beberapa santri yang berjalan hendak bermunajat di masjid memecah keheningan malam. Tasbih berputar mengiringi deru redam mereka yang menikmati kebersamaan dalam bermunajat bersama Tuhannya. Sedangkan saya, saya duduk di emperan pondok menikmati suasana malam. Karena saya percaya bahwa disaat-saat hening itulah ketenangan dalam berpikir dan dalam menghayati keagungan tuhan bisa dicapai. Sehingga ketenangan itu dapat menggugah hati untuk selalu bersyukur.

Sejenak saya diam, lalu melihat-lihat sekeliling, memahami dan memaknai apa yang terjadi, dengan keagungan Tuhan. Keagungan yang tak banyak orang dapat memahaminya atau bahkan mensyukurinya. Seketika, bau amis melintas kedalam Indra penciuman saya dan seketika itu pula dengan sigap saya melihat darimana bau amis itu berasal.

Banyak kertas plastik berceceran di tanah dan beberapa butiran nasi lengkap dengan kepala ikan sisa-sisa santri yang baru saja masak bersama-sama. Sisa nasi dan kepala ikan itu di pungut oleh seekor kucing. Ternyata itulah sumber bau amis.

Kucing itu terlihat sangat kurus mungkin karena sudah dua hari atau tiga hari asupan makanannya sangat sedikit. Saya memperhatikan kucing itu. Begitu lahapnya ia menyantap kepala ikan yang berceceran. Namun aneh.

Sejenak saya berpikir. kucing ini aneh. Ia mungkin tidak tahu bahwa semua kepala ikan yang berceceran itu sangat lezat. Danln jika disimpan, beberapa kepala ikan itu bisa dimakan esok hari. Namun, kenapa si kucing tidak memakan semuanya? Anehnya lagi, kenapa si kucing hanya memakan bagian yang kecil-kecil saja dari sisa-sisa ikan? Sungguh kucing yang aneh.

Sejenak pikiran saya tertuju pada mahluk yang cenderung memandang sesuatu, selalu hanya pada aspek logika, yaitu manusia. Mungkin tidak semuanya. Mungkin juga bukan kita (penulis & pembaca yang budiman). Seandainya kucing tersebut adalah manusia, sudah sangat mungkin ia akan memilih kepala ikan yang besar daripada bagian kecil dari  kepala ikan itu. Bahkan, seandainya si kucing adalah manusia, maka sangat mungkin pula ia akan mengumpulkan dan menyimpan kepala-kepala ikan tersebut untuk keperluan makan esok hari. Tapi tidak! Si kucing bukanlah manusia yang selalu hawatir tentang apa yang akan dimakan besok.

Terimakasih kucing!

Betapa si kucing memiliki sesuatu yang dapat dijadikan ibrah bagi manusia. Kucing itu kuberi nama Mutawakkil (sesuatu yang menyerahkan segalanya kepada Allah "Tawakkal"). Seandainya kucing itu memiliki akal, mungkin kucing itu berpikir bahwa sesuatu yang besar tidaklah selalu nyaman dan baik untuk dirinya. Kepala ikan yang besar hanyalah akan menyiksa mulut dan giginya karena ia harus bertarung menghancurkan tulang kepala ikan yang keras. Sedangkan di sebelahnya berceceran potongan daging ikan yang kecil-kecil.

Ia juga tidak hawatir tentang apa yang akan dimakan besok. Ia bahkan membiarkan kepala ikan tetap berceceran di tanah. Ia hanya mengendusnya dan mengacuhkannya. Ia tak berpikir untuk memungut ceceran kepala ikan itu untuk disimpan lalu memakannya besok.

Hidup si Mutawakkil benar-benar dipasrahkan kepada Allah. Ia pasrah dan mengikuti kemana takdir membawanya. Jika ia hidup, maka hidupnya tidak disebabkan karena makanan yang ia makan atau minuman yang ia minum akan tetapi, setiap hembusan nafasnya dan apapun yang ada pada dirinya berasal dari kekuasaan Allah yang maha memberi Rizki terhadap makhluknya.

Dari kejadian malam ini, si Mutawakkil seakan mengajari saya tentang cara bertawakal kepada Allah yang maha mengatur Rizki untuk hambanya tampa memberitahukan bagaimana Dia membaginya.

Untuk kita yang selalu hawatir dengan apa yang akan kita makan esok hari dengan menimbun*  banyak harta hari ini, inilah pelajaran bahwa, seekor kucing yang tak beakal saja bisa hidup tanpa hawatir ia diberi rejeki apa dan bagaimana caranya oleh Allah besok. Sedangkan kita yang memiliki akal, selalu saja hawatir dengan urusan mengenyangkan perut. 

Jika mungkin Mutawakkil dapat berbicara, mungkin ia akan berkata, "cukup dengan khawatir apa yang akan kau makan besok, maka sesungguhnya kau telah menghina Allah".

Iqro' (bacalah) dan ambillah pelajaran dari apa yang terjadi disekeliling kita. Setelah Allah menunjukka jalan lurus kepada kita dengan hikmah. Lalu, Afalaa ta'qiluun?.


===========
Banyuanyar, 7 Mei 2018

-------
Note: Menimbun berarti menumpuk-numpuk harta benda dan tidak membelanjakannya di jalan Allah.

Komentar