Ada Harap di Lima Waktu





Allah telah menitipkan sholat kepada Nabi Muhammad untuk diberikan kepada manusia sebagai berita gembira dan sebagai sebuah paket harapan agar hidup manusia menjadi semakin berkualitas. Mungkin dari para pembaca bertanya-tanya kenapa bisa demikian. Di bagian mana dari sholat yang mengandung harapan? Lalu, apa hubungannya dengan waktu? Mari kita bernostalgia sejenak dengan berbagai kejadian yang berhubungan dengan sholat.
Ada tiga kata kunci  yang menempel pada judul tulisan diatas.  Yaitu harapan, waktu dan sholat. Ketiganya saling berkaitan dan saling melengkapi dalam memberikan manfaat kepada manusia. Urutannya tidak harus seperti yang tertulis di judul namun harus disesuaikan dari mana yang paling memiliki cakupan universal hingga mengerucut pada yang lebih kecil cakupannya. Sehingga urutannya akan menempatkan waktu sebagai bagian yang lebih luas cakupannya dan meletakkan sholat dan harapan pada cakupan setelahnya.
Perihal waktu, sudah banyak literatur yang membahasnya, mulai dari adanya penemuan ide tentang adanya waktu, penemuan waktu 24 jam dalam sehari semalam, hingga penemuan penanda jam di berbagai wilayah dengan bentuk jam masing-masing sesuai wilayahnya. Namun pada kali ini, penulis tidak akan membahas seluruhnya tentang waktu dan perkembangannya di masa lalu hingga sekarang, tetapi penulis akan lebih membahas tentang turunnya sholat yang tidak lepas dari perputaran dan persoalan waktu. Mari diingat kembali tentang sejarah turunnya (disyariatkannya) sholat kepada Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam  pada saat terjadi isra’ dan mi’raj. Hal mustahil yang sangat tidak dipercaya bahkan ditantang oleh kaum Quraisy adalah persoalan waktu perjalanan Nabi. Bagaimana mungkin perjalanan sebulan dari Mekkah ke Baitul-Maqdis bisa ditempuh dalam waktu semalam ditambah lagi cerita perjalanan ke langit ke-tujuh (Sidratil Muntaha). Sungguh, terkadang waktu membuat banyak orang tercengang tidak percaya bahwa memercayai waktu diluar logika manusia adalah sebuah kepercayaan yang luar biasa besar.
Perihal waktu kedua, masih tetap pada sejarah dititpkannya Sholat kepada manusia yaitu ketika Nabi Muhammad diperintah langsung oleh Allah untuk mengabarkan kepada manusia bahwa sholat wajib adalah 50 waktu. Kata kuncinya adalah 50 waktu. 50 waktu dalam sehari semalam. Baiklah! Kita bahas lebih lanjut tentang 50 waktu sholat dalam sehari semalam ini di paragraf selanjutnya. Setelah perintah itu diterima oleh Nabi dan beliau turun dari langit ke tujuh, banyak Nabi-Nabi yang menghalangi beliau untuk turun. Nabi Muhammad diminta untuk kembali lagi meminta keringanan sebab para Nabi tidak yakin bahwa manusia akan sanggup dengan perintah sholat 50 waktu itu. Akhirnya Nabi Muhammad rela kembali kepada Allah untuk meminta keringanan agar 50 waktu itu dikurangi hingga pada akhirnya Nabi Muhammad memutuskan untuk menerima perintah sholat 5 waktu dalam sehari semalam. Sungguh indah pengorbanan Nabi Muhammad yang merelakan waktu beliau untuk bernegosiasi dengan Allah perihal waktu sholat demi Ummat Manusia. Terkadang, waktu sangatlah berat ketika dibebankan kepada mahluk yang bernama Manusia.
Selanjutnya, mari pahami tentang dua hadist yang membahas keutamaan sholat lima waktu. Pada dasarnya, di pembahasan ini, penulis akan mengajak pembaca untuk mengingat-ingat kembali dua hadist itu sebab, bagi sebagian orang, dua hadist itu tidak lagi bermakna apa-apa selain apa yang ada pada teks hadist tersebut. Begitu banyak keterangan yang erat kaitannya dengan keutamaan sholat, namun penulis akan mengutip dua hadist saja yang akan bertalian dengan pembahsan terahir dari tulisan ini.
Hadist yang pertama adalah hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rosulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam  bersabda yang artinya “tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungaidi dekat pintu salah seorang diantara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari selama lima kali. Apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “tidak akan tersisa sedikitpun  kotorannya.” Beliau berkata, “maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu. Dengannya Allah menghapuskan dosa-dosa.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667)
Hadist kedua adalah hadist yang diriwayatkan oleh Jabir radhiyallahu ‘anhu,  ia berkata bahwa Rosulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam  bersabda yang artinya “Pemisalan sholat yang lima waktu itu seperti sebuah sungai yang mengalir melimpah di dekat pintu rumah salah seorang di antara kalian. Ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali.” Al hasan berkata, “tentu tudak tersisa kotoran sedikitpun (di badannya).” (HR. Muslim no. 668)
Ada makna tersirat yang penulis pahami dari dua hadist Nabi diatas yaitu adanya sebuah harapan. Harapan atas pengampunan dosa-dosa dari Allah dengan perantara sholat.  Nabi Muhammad tidak menggolongkan dosa apa saja yang dimaksud dalam hadist diatas. Dalam bahasa Arab kata “khatayaa” adalah bentuk jamak (plural) dari kata “khata’” yang artinya “kesalahan-kesalahan/dosa-dosa”. Jadi, apapun dosanya ketika dibasuh dengan sholat lima waktu pasti dosa-dosa itu akan terhapus.
Saat sholat subuh, ada harapan pengampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan dari selepas sholat isya’. Saat sholat dhuhur, ada harapan pengampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan sejak selepas sholat subuh. Dan begitu seterusnya saat sholat ashar, maghrib dan isya’. Tidak perduli dosa apa saja yang telah dilakukan, sholat tetap dapat menghapusnya.
Manusia, siapapun dia, pasti tidak bisa lepas dari dosa. Setiap detik, menit, jam, hari, bulan, tahun dan seterusnya manusia tidak akan pernah lepas dari dosa. Namun, di setiap detik, menit, jam dan seterusnya itu, Allah memberikan harapan pengampunan dosa dengan sholat lima waktu dalam sehari semalam. Bayangkan bagaimana bersihnya jiwa kita jika harapan pengampunan dosa itu kita dapatkan dengan sholat 50 waktu dalam sehari semalam.
Pada dasarnya, tentu tidak muluk-muluk. Bagi manusia, dosa-dosa kecil terhapuskan saja sudah merupakan nikmat yang luar biasa dari Allah. Untuk pengampunan dosa yang besar-besar, lakukanlah ritual ibadah yang besar lainnya sebagai upaya tambahan atas pengampunan. Betapa Allah telah menyisipkan harapan pengampunan dosa pada waktu dan sholat 5 waktu yang dititipkan setiap hari kepada manusia.  Namun, betapa manusia abai pada harapan-harapan itu.
La taqnatu min rahmatillah… (janganlah kamu berputus asa dari Rahmat Allah) begitulah Allah memberikan isyarat secara jelas kepada manusia untuk tidak berputus asa (selalu berharap) terhadap rahmat Allah dan ampunan-Nya atas dosa-dosa. Melaksanakan sholat lima waktu adalah bentuk real bahwa manusia masih berpengharapan kepada Allah. Jika tidak, maka silahkan pembaca simpulkan sendiri kalimat yang tepat untuk manusia yang demikian.
Jika ada kalimat "jangan berhenti berharap" itu berarti sama dengan kalimat "jangan berhenti sholat. Jika ada kalimat "teruslah berharap" itu sama dengan kalimat "teruslah sholat". Maka janganlah berhenti berharap dan teruslah sholat.

*****
Oleh : Homaidi

Komentar