Aku adalah anak desa yang hanya mampu bermimpi. Namun, tempat tinggal bukan penghalang bagiku untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu. Aku harus mencari jalan sesuai dengan kemampuanku menjalani jalan dalam menggapainya. Itu artinya bila kemampuanku berjalan di jalan yang berbeda dengan jalan yang dilewati kebanyakan orang untuk menggapai mimpi, itu tidak masalah. Sebab itulah kemampuanku. Lebih tepatnya sesuai kondisi perekonomianku, sih! Hehe!
Beberapa jalan yang aku lewati mungkin agak aneh bagi kebanyakan orang. Bahkan barangkali orang-orang akan meragukan apa yang telah aku capai karena caranya berbeda. Orang bisa saja menuduhku bahwa jalan yang aku lewati tidak akurat, tidak akademik, tidak jelas dan lain sebagainya. Tapi itu tidaklah begitu penting bagiku. Yang paling penting bagiku adalah bahwa inilah jalan yang aku yakini sebagai jalan menempuh apa yang aku inginkan. Dan yang paling utama dari semuanya adalah aku bisa mendapatkan esensi dari semuanya. Aku akan menceritakan jalan yang aku lewati itu padamu. Jadi, mari aku ajak kamu untuk membaca tulisan ini dengan santai.
Jadi begini!
Seringkali aku bermimpi memiliki ilmu dan memiliki pemahaman tentang isi kitab-kitab yang berbahasa Arab.
Saat orang pandai baca kitab, aku_pun bermimpi untuk bisa baca kitab. Kalau di pondok pesantren, orang pintar baca kitab detail dengan bahasa Arab, makna dan maksud dari isinya, sedang aku tidak tinggal di pesantren. Jika aku tidak bisa dengan cara demikian, maka aku harus lewat jalan lain untuk minimal bisa paham isinya yaitu dengan mencari kitab terjemahannya. Lewat kitab terjemahan inilah aku bisa memiliki pemahaman. Pemahaman tentang Agama dalam berbagai kitab. Aku tidak perlu belajar ke pesantren atau ke Arab. Karena pada kenyataannya aku tidak mampu untuk pergi ke sana. Aku hanyalah anak desa biasa yang ekonominya serba kecukupan.
Barangkali sedikit demi sedikit aku harus belajar bahasa Arab. Itu harus. Tapi, aku butuh pemahaman tentang kitab itu saat ini. Tidak apa-apa saat ini aku baca terjemahannya saja. Suatu saat aku pasti bisa baca kitab yang asli berbahasa Arab.
Yang paling penting bagiku saat ini adalah memahami isi kitabnya, bukan teks bahasa Arab dengan segala bentuk aturan tata bahasanya.
Bagaimana? Apakah kamu setuju dengan caraku itu? Jika tidak, ya tidak apa-apa. Mungkin kau termasuk orang yang beruntung memiliki kondisi ekonomi yang serba ada. Jika kalian setuju , aku akan menceritakan cerita selanjutnya. Mari dengarkan!
Seringkali ketika aku bertemu dengan teman yang mondok di pondok pesantren, aku ingin juga bisa mondok. Tapi apalah daya. Orang tuaku tidak punya biaya. Tapi aku tidak mempermasalahkan hal itu. Aku harus mencari tujuan utama dari mondok (pembelajaran) di pesantren. Sementara yang aku pahami adalah bahwa seorang santri itu dikenal dengan pemahamannya yang dalam tentang agama. Dari pemahaman itu, hal yang tampak pada kehidupan sehari-hari seorang santri adalah keistiqomahan, kesantunan, dan ketakdziman kepada guru dan orang tuanya. Aku juga harus bisa mendapatkan hal yang demikian. Aku harus juga bisa mendapatkan seperti apa yang para santri dapatkan.
Salah satu caranya adalah dengan belajar kitab. Aku sudah tahu bahwa kitab berbahasa Arab ada terjemahannya. Namun, di desaku tidak ada ustadz atau kiyai untuk aku bisa belajar kitab kepada mereka. Dan semisalpun ada ustadz atau kiyai di desaku, aku tidak punya waktu yang cukup untuk setiap hari harus belajar. Baiklah, pasti ada cara lain. Internet, itulah cara terakhir. Di internet, tersedia berbagai artikel tentang ilmu Fiqih, tafsir dan ilmu agama lainnya.
Tapi aku harus teliti dulu sumber atau referensinya. Sebab, salah-salah aku bisa tersesat bila artikel atau penjelasan-penjelasan tentang agama di internet tidak jelas sumbernya. Setelah itu, seminggu sekali aku harus bertanya kepada salah satu ustadz yang cukup paham tentang agama tentang apa yang telah aku baca di internet. Sebab, aku tahu, bahwa belajar Agama tidak boleh secara otodidak. Itu karena taraf kecerdasanku masih dibawah rata-rata. Aku sadari itu.
Tidak apa-apa orang meragukan pemahamanku tentang agama karena aku belajar dari google. Bukankah Rosulullah tidak pernah membatasi umatnya untuk belajar. Hanya saja beliau memberikan jalan untuk berdiskusi atau menginformasikan apa yang diketahui kepada seorang guru agar pemahaman itu tidak tersesat.
Aku juga harus mengamalkan ilmu yang aku dapat dari internet tanpa harus perduli pada ocehan orang-orang.
Pada tahap belajar, tugasku adalah mengamalkan ilmu, aku belum terpercaya untuk mendakwahkannya kepad orang lain.
Pada tahap belajar, tugasku adalah mengamalkan ilmu, aku belum terpercaya untuk mendakwahkannya kepad orang lain.
Aku juga harus Istiqomah, taat kepada Allah dan santun dalam bersikap. Mungkin itulah intisari dari pemahaman bahwa "santri tidaklah hanya dia yang belajar di pondok pesantren, tapi santri adalah ia yang mengetahui ilmu dan menggunakan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari seperti seorang santri"
Hem...
Ternyata Allah menyediakan jalan bagi hambanya yang mencari jalan. Apakah itu yang dimaksud hidayah? Entahlah! Kau lebih tahu dariku. Baiklah! Aku masih punya dua cerita untukmu. Gapapa, kan!
Di waktu lainnya, seringkali ketika aku sakit, aku penasaran dengan apa yang terjadi pada tubuhku kenapa bisa sakit. Aku perlu mengetahuinya. Aku penasaran. Aku meyakini bahwa aku tidak harus menjadi dokter dulu untuk bisa mengetahui penyebab penyakit yang ada dalam tubuhku. Aku bisa mencari tahunya dengan bertanya kepada dokter, membaca buku atau lewat baca artikel di internet. kalau bertanya ke dokter, mungkin dokter akan menjelaskannya tapi mungkin hanya penjelasan yang sangat simpel, tidak mungkin detail. Aku juga tidak bisa beli buku yang menjelaskan tentang penyakit itu. Apalagi nyatanya aku tidak punya cukup uang untuk membelinya. Pilihan terakhir adalah, lagi-lagi, mencari referensi di internet. Semua orang punya yang satu ini, jaringan internet, termasuk aku.
Orang mungkin mencibir. Tapi tidak apa-apa. Tidak usah minder semisal ada orang yg bilang, "gurunya sih Mbah Gugel!" Biarkan! Bagiku itu tidak penting untuk aku tanggapi. Yang terpenting adalah bahwa aku bisa mendapatkan banyak informasi tentang penyakitku di sana.
Aku bersyukur ada internet. Dengannya aku bisa mencari berbagai hal untuk diketahui termasuk apa yang terjadi dengan tubuhku.
Kata dokter aku sakit magh. Ok! Aku sudah punya kata kuncinya, penyakit Magh. Aku harus mencari informasi tentang penyakit magh. Untuk merawat penyakitku kali ini, aku sangat butuh dokter. Tapi kedepan, aku sudah tahu apa itu penyakit magh, penyebabnya apa, bagaimana cara mengobatinya dan bagaimana mencegahnya. Cukup aku menjadi dokter bagi diriku sendiri.
Aku lanjutkan dulu, ya!
Setelah lulus SMA, ternyata tetap saja, kondisi keuangan keluargaku tetap rendah. Tidak cukup untuk membiayai pendidikanku selanjutnya. Sulit memang untuk aku hadapi. Sebab bagiku pendidikan tetap penting dalam seperti apapun kondisinya.
Sejenak aku berpikir, mungkin kondisi ini sama seperti ketika aku tidak bisa mondok di pesantren untuk belajar agama. Mula-mula, aku harus mulai menelusuri apa dan bagaimana seharusnya menjadi mahasiswa. Akhirnya aku menemukan esensi menjadi mahasiswa. Maha dan siswa yang artinya adalah "terpelajar". Mahasiswa adalah ia yang terpelajar dan mampu mengaplikasikan keilmuannya menjadi sebuah inovasi dan kreatifitas yang bernilai tinggi. Hanya saja untuk bisa disebut mahasiswa, siapapun harus terdaftar di perguruan tinggi. Untuk hal itu aku tidak bisa. Tapi kalau menjadi mahasiswa sesuai pengertiannya, aku yakin pasti bisa.
Membaca buku dan browsing di internet adalah kuncinya. Kebetulan di sekolahku banyak buku-buku sejarah. Aku suka sejarah. Ada pula guru yang sangat handal didalamnya. Aku putuskan untuk menjadwal hari-hariku ke depan untuk baca buku di perpustakaan sekolah. Jadwalnya akan aku samakan dengan jadwal kuliah milik temanku. Setelah itu, aku akan mencari waktu setiap hari untuk mendiskusikan apa yang sudah aku baca. Itulah caraku untuk minimal aku bisa belajar sama seperti temanku yang kuliah belajar. Aku yakin dengan cara itu, suatu saat aku bisa menjadi sehandal temanku yang kuliah dalam bidang sejarah.
Lagi-lagi, ada cara pada setiap hal yang menjadi keterbatasan dalam diriku.
Aku rasa ini sudah cukup jelas tentang caraku menyiasati keterbatasanku. Aku punya cara tersendiri untuk menyiasati keterbatasan aksesku pada dunia. Aku tidak serta-merta menerima dunia dengan apa adanya. Aku bisa melakukan banyak hal. Latarbelakang ekonomi yang serba kekurangan bukanlah alasan untuk malas menjelajahi dunia.
Aku bisa menjadi apapun yang aku mau. Caranya mungkin tidak sama dengan cara yang dilalui kebanyakan orang. Tapi yang terpenting adalah tercapainya tujuan dan mimpiku. Itu yang paling penting.
***
"Dunia itu keras, jika kau tidak bersikap keras pada dunia maka dunia akan membuangmu"
4 Maret, 2020
Kamar 02.

Komentar
Posting Komentar
Terimakasih telah memberikan komentar!
Akan kami tanggapi komentar anda dalam waktu dekat.