Catatan Santri XLV



Catatan ini adalah hasil ceramah Ust. Subahri kepada seluruh santri yang mengaji di Masjid Al-Furqon, masjid tempat Rendy dan Aminullah belajar ilmu. Pengajian ini adalah salah satu program takmir masjid yaitu Kuliah Tujuh Menit yang dilaksanakan Ba’da shalat subuh berjamaah.

Pada kesempatan pagi ini, beliau memberikan wejangan tentang bagaimana cara mengendalikan diri. Cara ini bukanlah satu-satunya cara untuk pengendalian diri tetapi cara ini hanya bagian kecil dari sekian banyak cara dalam mengendalikan diri. Beliau memberikan pandangan kenapa diri ini harus dikendalikan. Pengendalian diri dilakukan karena faktor hawa nafsu. Hawa nafsu tidak henti-hentinya melogikan banyak hal untuk mempengaruhi diri kita agar terjerumus ke dalam kesesatan pola pikir dan tindakan. Kesesatan pola pikir yang dimaksud adalah kemampuan berpikir pendek tentang sesuatu. Bisa jadi kesesatan yang dimaksud adalah pola pikir yang dapat merugikan diri atau bahkan orang lain. Bentuknya bermacam-macam. Sehingga perlu kehati-hatian yang luar biasa agar bisa mengendalikan diri sendiri dalam berpola pikir.

Sebuah pepatah kuno mengatakan “Jangan percaya pada dirimu sendiri saat kau sedang marah, atau kecewa”. Marah merupakan bentuk lain dari ego sedangkan kecewa merupakan manifestasi  dari keputus-asaan terhadap suatu kondisi, interaksi yang tidak berkenan dalam hati atau hal-hal negatif lainnya. Boleh jadi dasar dari semua perasaan (Marah & kecewa) itu adalah dominasi ego dalam diri seseorang.  

Kalimat pepatah diatas memberikan implikasi kepada setiap diri masing-masing untuk tidak memercayai diri sendiri ketika ego sedang mendominasi. Dalam kondisi demikian (tidak memercayai diri sendiri sebab ego) maka janganlah sekali-kali membuat keputusan apapun. Maka setiap keputusan yang dibuat saat sedang ego bukanlah keputusan atas dasar kesadaran tetapi dibuat atas dasar egoisme.

Pertemanan bisa putus sebab pertengkaran sepele, hubungan tetangga satu dengan lainnya bisa rusak akibat perselishan kecil, dan sebuah keluarga bisa hancur sebab percekcokan terjadi antara suami istri, orang tua dan anak dan keluarga lainnya bisa pecah disebabkan hal kecil. Apa sebabnya? Sebabnya adalah karena semua yang disebutkan barusan adalah akibat dari tindakan memutuskan sesuatu saat sedang marah. Ego-lah yang mendominasi pada saat keputusan tersebut dibuat.

Di bagian akhir pada kultum tersebut, Ust, Subahri berpesan “Dirimu bukan dirimu yang sesungguhnya saat kau sedang marah atau kecewa”.


#Serambi kanan Masjid AL-Furqon. 02, 02, 2020.

Komentar