Catatan ini adalah hasil
ceramah Ust. Subahri kepada seluruh santri yang mengaji di Masjid Al-Furqon, masjid tempat Rendy dan Aminullah belajar ilmu. Pengajian ini adalah salah satu program takmir masjid yaitu Kuliah
Tujuh Menit yang dilaksanakan Ba’da shalat subuh berjamaah.
Pada kesempatan pagi ini,
beliau memberikan wejangan tentang bagaimana cara mengendalikan diri. Cara ini
bukanlah satu-satunya cara untuk pengendalian diri tetapi cara ini hanya
bagian kecil dari sekian banyak cara dalam mengendalikan diri. Beliau memberikan
pandangan kenapa diri ini harus dikendalikan. Pengendalian diri dilakukan karena faktor hawa nafsu. Hawa nafsu tidak
henti-hentinya melogikan banyak hal untuk mempengaruhi diri kita agar
terjerumus ke dalam kesesatan pola pikir dan tindakan. Kesesatan pola pikir yang dimaksud adalah kemampuan berpikir pendek tentang sesuatu. Bisa jadi kesesatan yang dimaksud adalah pola pikir yang dapat merugikan diri atau bahkan orang lain. Bentuknya bermacam-macam. Sehingga perlu kehati-hatian yang luar biasa agar bisa mengendalikan diri sendiri dalam berpola pikir.
Sebuah pepatah kuno
mengatakan “Jangan percaya pada dirimu sendiri saat kau sedang marah, atau
kecewa”. Marah merupakan bentuk lain dari ego sedangkan kecewa merupakan manifestasi dari keputus-asaan terhadap suatu kondisi, interaksi
yang tidak berkenan dalam hati atau hal-hal negatif lainnya. Boleh jadi dasar dari
semua perasaan (Marah & kecewa) itu adalah dominasi ego dalam diri seseorang.
Kalimat pepatah diatas memberikan implikasi kepada setiap diri masing-masing untuk tidak memercayai diri
sendiri ketika ego sedang mendominasi. Dalam kondisi demikian (tidak memercayai
diri sendiri sebab ego) maka janganlah sekali-kali membuat keputusan apapun. Maka setiap keputusan yang dibuat saat sedang ego bukanlah keputusan atas dasar kesadaran tetapi dibuat atas dasar egoisme.
Pertemanan bisa putus
sebab pertengkaran sepele, hubungan tetangga satu dengan lainnya bisa rusak akibat perselishan
kecil, dan sebuah keluarga bisa hancur sebab percekcokan terjadi antara suami istri,
orang tua dan anak dan keluarga lainnya bisa pecah disebabkan hal kecil. Apa sebabnya? Sebabnya
adalah karena semua yang disebutkan barusan adalah akibat dari tindakan memutuskan sesuatu saat sedang marah. Ego-lah yang mendominasi pada saat keputusan tersebut dibuat.
Di bagian akhir pada
kultum tersebut, Ust, Subahri berpesan “Dirimu bukan dirimu yang sesungguhnya
saat kau sedang marah atau kecewa”.
#Serambi kanan Masjid AL-Furqon. 02,
02, 2020.

Komentar
Posting Komentar
Terimakasih telah memberikan komentar!
Akan kami tanggapi komentar anda dalam waktu dekat.