Bintang
yang tadi malam menghibur dua pemuda itu sudah mulai memudar dan perlahan
hilang mengalah pada dua fajar. Cahayanya tetap ada dan akan selalu ada meski
malam berganti siang, meski siang berganti malam dan begitu seterusnya. Cahayanya
abadi, hanya saja saat malam, setiap mata seringkali terlena dengan cahaya Bulan,
lebih terang dari Bintang. Penglihatan bola mata manusia direbut oleh Bulan,
seluruhnya. Tapi Bulan yang cahayanya tampak begitu terang itu tak pernah
abadi, ia menyerah dan pasrah saat Matahari tak lagi meminjamkan cahaya padanya.
Sementara
Manusia, siapapun itu, secara naluriah membutuhkan tempat untuk mencurahkan isi
hati agar mendapatkan cahaya terang seterang dan seabadi cahaya Bintang,
membutuhkan pendengar yang setia mau mendengarkan sesetia Bintang yang menerima
setiap curhatan hati meski ia diam, tak mendengar, dan membutuhkan solusi untuk
minimal dapat mengurangi kegetiran.
Manusia
selalu mencari cahaya kebahagiaan. Setelah gejolak hati Manusia dapat dihilangkan
maka akan hadir ketenteraman, akan hadir kekosongan jiwa yang berfokus pada
ringannya beban hidup dan akan hadir sebuah cahaya keindahan dalam sanubari
yang mampu bersinar didalam diri dan diluar diri. Seringkali kondisi demikian
dimiliki manusia, tapi sedetik kemudian cahaya itu pudar dihantam keras oleh
rasa benci, iri, hasut, dengki, suka mencari-cari kesalahan manusia lain,
kehawatiran tentang masa depan dan hal-hal buruk lainnya. Hingga hati itu
berwarna bagaikan kulit Zebra, hitam dan putih, gambaran dari cahaya
kebahagiaan dan kegelapan, gambaran dari keceriaan dan kesedihan. Perpaduan antara
keduanya, Jarak warna putih dan hitam lebih panjang dan lebih lebar wana hitam
sebab hati didominasi oleh kegetiran dalam hidup. Entahlah sampai kapan cahaya
kebahagiaan itu akan tetap tinggal dan tak pernah lagi singgah sesaat dalam
hati.
****
Bintang-Bintang
masih berkelap-kelip menggantung di langit. Udara dingin menyelinap melalui
sela-sela jendela yang Aminullah biarkan terbuka. Aminullah memang sudah
terbiasa membiarkan jendela kamarnya terbuka agar setiap sepertiga malam angin
bisa dengan bebas membelai wajahnya dan membuatnya perlahan terbangun. Disaat
itulah Aminullah bangkit menembus kedinginan. Ia bangkit untuk senantiasa bermesraan
dengan-Nya dalam keheningan. Disaat itulah cahaya abadi akan turun, masuk dan
menerangi hati siapapun yang bermasalah, galau, gelisah, gelap dan penuh
onak. Yang turun, masuk dan menerangi
hati adalah cahaya Bintang, abadi, bukan cahaya Bulan, sesaat.
Rakaat
keenam setelah salam, Aminullah mendengar gemercik air di kamar mandi. Mungkin
itu Rendy sedang ambil wudlu. Aminullah mengabaikan dan melanjutkan shalat terahir,
shalat witr. Ternyata benar, itu Rendy. Ia juga hendak melaksanakan sholat.
****
Kedua
pemuda itu larut dalam keheningan. Udara dingin tidak mampu merayu atau
membujuk mereka untuk menarik selimut dan membuat mereka terlena pada
kehangatan bantal guling demi melanjutkan mimpi. Di saat hining itulah kedua
pemuda itu menyambut cahaya ketenangan.
Jam dinding
menunjukkan pukul empat kurang dua puluh enam menit. Suara adzan subuh
mendayu-dayu dari seluruh penjuru kampung. Kedua pemuda itu bergegas menuju
masjid Al-Furqan, didekat rumah Ustadz Subahri, untuk shalat subuh berjamaah.
Sangat
kebetulah sekali, tidak ada Ustadz Subahri disana. Aminullah bertanya kepada
jamaah disampingnya ternyata Ustadz Subahri sedang bepergian ke salah satu
familinya di Jawa. Iqamah sudah dikumandangkan, tanda sholat harus didirikan.
Harus ada yang memimpin Shalat Subuh berjamaah menggantikan Ustadz Subahri.
Para jamaah berdiri sudah siap untuk Sholat. Tapi para jamaah saling menoleh
seakan hendak bertanya siapa yang akan menjadi imam. Para Jamaah menoleh ke arah
Aminullah yang berdiri tepat di depan mimbar. Ia diam berharap ada relawan yang
maju untuk menjadi Imam Shalat. Pak Hamdan mendorong punggung Aminullah
pertanda ia meminta Aminullah untuk menjadi imam tapi Aminullah tidak mau. Tetap tidak
ada jamaah yang siap menjadi Imam Sholat. Akhirnya Aminullah mengalah. Ia maju
dua langkah ke kiri sebelah mimbar. Sebelum takbirotul ihrom, ia menenangkan diri sejenak, sebab, ia gemetar, belum terbiasa dan ini
adalah kali pertama ia diminta untuk menjadi imam shalat di masjid itu.
Shalat
subuh kali ini sungguh khidmat. Sluruh Jamaah sholat terkagum-kagum dengan
bacaan Al-Quran yang dilantunkan oleh Aminullah, meresapi keindahannya meskipun
mereka tidak paham artinya satu persatu. Aminullah membaca surah Al-Baqarah
ayat 62-69 di rakaat pertama dan ayat 70-76 di rakaat kedua. Ia melantunkannya
dengan lagu Bayyati, mirip sekali dengan lagu bacaan Al-Quran Syech Misyary
Rasyid, indah dan menenteramkan hati siapapun yang mendengarnya. Setiap pribadi
yang ada dalam barisan shoalt subuh itu merasakan kehadiran sesuatu dalam hati
masing-masing. Sesuatu itu tidak dapat didefinisikan sebagai hal lain kecuali
sebagai ketenangan, ketentraman dan kedamaian. Hati para jamaah disihir menjadi
tentram oleh ayat-ayat suci yang yang dilantunkan Aminullah, Imam Sholat Subuh berjamaah
waktu itu.
Hal yang
sama terjadi pada Rendy. Ia bahkan mengikuti bacaan Al-Quran sang imam dengan
suara sangat lirih. Namun, ada sesuatu hal lain yang lebih kuat dari sihir
bacaan Al-quran Aminullah hadir, masuk kedalam hati Rendy di rakaat kedua.
Rendy ingat bahwa Ia sangat tahu ayat-ayat itu. Ia tahu bahwa ayat yang dibaca Aminullah
di rakaat pertama dan yang kedua itu bersambungan, dua kaca atau dua halaman.
Rendy tahu sekali ayat-ayat itu, sebab waktu ia menghafal ulang dua halaman itu
dibawah pohon lengkeng di depan rumah Ust Subahri. Waktu itu, Rendy belum fasih
menyetor ayat-ayat itu ke Ustadz Subahri. Lalu beliau memintanya untuk
mengulang-ulang lagi hingga Tahqiq. Waktu itu juga, ada Ayu dan Kayla, temannya,
mengantar makanan untuk Ustadz Subahri. “Astaghfirullah … .” lirih Rendy dalam
hati. Rendy kembali fokus mengikuti bacaan Imam. Ia tidak mau siapapun,
termasuk Ayu, datang mengganggu sholatnya. Bukan sebab benci tapi baginya shalat
adalah untuk mengingat yang Maha Segalanya, bukan yang lain.
****
Jam 6.30,
dua pemuda itu duduk di Gazebo tempat tadi malam mereka melihat bintang yang
bertaburan di langit. Mereka membuka buku yang tadi malam dirapikan Rendy,
membuka dan membacanya. Tiga puluh menit Aminullah larut dalam buku Fihi Maa
Fihi dan Rendy mendayung perahu imaginasinya dalam buku Siapa Sebenarnya
Markesot. Bagi mereka, apapun jurusannya di Perguruan tinggi, apapun
pekerjaan dan profesinya, dimanapun tempatnya, keturunan petani, kiyai atau
raja sekalipun, membaca buku adalah sesuatu yang tidak hanya sekedar kebutuhan
tapi lebih dari itu, membaca adalah nutrisi bagi peradaban kemanusiaan.
“Min, aku
yakin bahwa manusia sudah pasti punya masalah, entah kecil atau besar, entah
dapat diselesaikan atau tidak dapat diselesaikan. Termasuk kamu juga kan, Min?”
Rendy memulai percakapan.
“Iya lah,
Rend. Kan aku juga manusia,” tanggap Aminullah santai.
Rendy
merapikan duduknya. Ia duduk bersila, rapi. Sepertinya Rendy mau membicarakan
hal yang lumayan serius dengan Aminullah.
Dengan
cepat Rendy membalas ucapan Aminullah, “dan aku yakin bahwa manusia butuh
tempat untuk menumpahkan keluh kesah hidupnya. Termasuk kamu juga kan, Min?”
“Iya lah,
Rend. Kan aku juga manusia,” tanggap Aminullah tetap dengan nada santai dan
dengan pandangan yang tetap fokus pada buku yang dipegangnya.
“Ah, gitu
terus jawabanmu, Min.” Rendy menggaplek Amin dengan buku ditangannya. Rendy
melanjutkan pembicaraaan, “sebenarnya aku penasaran, Min. Aku penasaran siapa
yang menjadi tempat tumpahan isi hatimu pas kamu lagi ada masalah.”
“Ada dong.
He he.” Jawab Aminullah singkat.
“Siapa?
Cowok? Atau cewek? Siapa namanya?” tanya Rendy penasaran ingin segera tahu
siapaakah gerangan.
“Ah, kamu,
Rend. Penasaran amat. Kalau aku ceritakan siapa tempat curhatku lalu apa
manfaatnya untukmu? Tapi kalau kamu memaksa, aku akan menceritakannya.
Rendy
semakin merapikan cara duduknya sembari meletakkan tangan kanan di dagunya dan
tangan kirinya memegang buku. “Ok, tak perlu tahu apa manfaatnya,” tukas Rendy
singkat.
Aminullah
mulai menjelaskan, “jadi begini, Rend. Aku tahu bahwa manusia butuh tempat
untuk mencurahkan isi hati entah isi hati tentang kebahagiaan atau kesedihan.
Tempat curhatnya-pun berbeda-beda. Ada yang mencurahkannya kepada teman,
saudara, orang tua, atau bagi yang berkeluarga, kepada istri atau suaminya. Bagiku,
boleh-boleh saja isi hati dicurahkan kepada siapapun asalkan benar-benar dapat
dipercaya. Sebab, apabila salah tempat maka akibat buruk atau sesuatu yang
tidak diinginkan bisa terjadi dan akan selalu menghantui, bisa saja bocor ke
orang lain. Makanya terkadang ketika manusia curhat, mereka hawatir curahan
hatinya dibocorkan ke orang lain.”
Rendy
bersemangat mendengarkan penjelasan Aminullah. Sementara Aminullah melipat
kertas halaman bacaan terakhir di buku yang ia baca lalu melanjutkan
penjelasannya, “Disamping tempat-tempat curhat tadi, ada satu tempat yang sangat terpercaya dan dapat
menjamin kerahasiaannya.” Aminullah berhenti sejenak, heran melihat wajah
serius Rendy mendengarkan, tidak biasanya.
“Ah, kok
berhenti, Min? Ayo, Siapa tempat curhat yang dapat menjamin keamannanya itu? Ayo,
Jelaskan!,” paksa Rendy.
Dengan senyum
yang khas, Aminullah melanjutkan, “tempat mencurahkan isi hati yang terpercaya
dan dapat terjamin kerahasiaannya adalah Allah. Allah maha terpercaya. Dia akan
menjaga kerahasiaan curahan hati siapapun. Dia tidak akan menceritakannya
kepada siapapun. Setiap keluh kesah yang kau curahkan kepada-Nya akan aman.” Kini
senyum Aminullah berubah menjadi haru. Penjelasannya tulus seperti ketulusan
curahan hatinya saat sujud, saat perjalanan, saat mau tidur dan waktu-waktu
lainnya.
Dengan mata
yang memandang pada kekosongan, Aminullah melanjutkan penjelasannya, “manusia
bebas menceritakan apapun kepada Allah. Sesungguhnya Allah sudah tahu isi hati
manusia tanpa harus diceritakan ulang, tetapi situasi dimana manusia
menceritakan sesuatu yang sudah diketahui-Nya merupakan bentuk penghambaan dan
kepasrahan tentang setiap hal hanya kepada-Nya. Setelah manusia mencurahkan
semuanya hanya kepada Allah, tanpa disadari akan hadir cahaya yang senantiasa
bersinar dalam hati mereka. Cahaya itu abadi seperti cahaya bintang yaitu cahaya
kebahagiaan, keceriaan dan cahaya ketentraman jiwa.”
“Hei!!!
Bengong aja!” Aminullah membuyarkan wajah seius Rendy. Penjelasannya sudah selesai.
“Gimana, Rend? Sudahkah terjawab pertanyaanmu?” tanya Aminullah, guyon.
Masih dengan
sisa wajah serius, Rendy menyimpulkan penjelasan Aminullah, “jadi, kau memilih
curhat kepada Allah ya, Min? Ok, sepertinya memang seperti itu, Min. Hanya kepada
Allah kita bisa curhat dengan bebas. Bebas menceritakan semua hal, yang baik,
yang buruk dan hal yang berhubungan dengan dosa sekalipun. Ok, Bro! Syukron
atas penjelasanmu tadi.”
****
Dari jendela
dapur, Ibu Aminullah memanggil kedua pemuda itu, “Min, nak Rendy, ayo sarapan
dulu!” Suara dari jendela dapur memecah suasana haru campur tegang di Gazebo depan
Rumah Aminullah. Keduanya beranjak mendekat ke asal suara untuk memenuhi
panggilan.
#We're waiting for your critics and comments. We are not perfect. We are just trying to be. So, help us to be perfect.
#Cahaya Cinta yang Tak Pernah Pudar
#CeritaTentangCinta
#CeritaTentangNilaiDanMaknaHidup
Komentar
Posting Komentar
Terimakasih telah memberikan komentar!
Akan kami tanggapi komentar anda dalam waktu dekat.