Bukankah Air Suci Itu Menyucikan? Sama Seperti Cinta





Malam itu sungguh indah. Pukul 23.30 di gazebo kecil depan rumah Aminullah bertabur Bintang-gemintang. Cahayanya terang. Sesekali ada cahaya yang seketika berjalan lalu menyusut menjadi biasan kecil dan hilang, entah cahaya itu Bintang jatuh atau bukan.

Begitulah Bintang, cahayanya terang tapi cahaya itu tak pernah sampai ke Bumi. jaraknya terlalu jauh. Tapi, keindahannya mampu membuat terpesona mata siapapun yang memandangnya. Cahayanya munkin tak pernah sampai ke Bumi tapi esensi keindahannya mampu menembus Langit dan jarak yang jauh dari Bumi. Aminullah sangat menikmati suasana itu, sambil tersenyum. 

Sementara, Rendy yang sedari tadi asik dengan handphonnya tiba-tiba bertanya, “Min, kamu ngejomblo selama tujuh tahun ini dari kuliah sampai sekarang alasannya kenapa, Min? Apa kau tidak mau membuka hati untuk orang lain setelah waktu itu kau memutuskan berhenti dengan kekasihmu? Atau apa ada hal lain yang membuatmu enggan untuk berurusan lagi dengan urusan asmara?”

“he he he! Kau kesambet jin apa, Rend? Tiba-tiba nanya hal-hal begituan. Apa tidak ada pertanyaan lain yang lebih seru?”

“Jangan ketawa dulu dong, Min! dalam hal asmara, kau kujadikan tauladan, aku mencontohmu. Jadi, ayolah cerita kenapa kau seperti itu, agar aku bisa berpikir dan tidak salah jalan. Apalagi setelah Ayu datang ke mimpiki waktu itu.”

“Ok, Ok … akan aku ceritakan. Tapi misal yang aku jelaskan ini tidak masuk akal, jangan coba-coba untuk memasukkannya ke akalmu, yak! Aku takut kau malah bingung. He he he! Begini saja dulu, aku mau menjadikan kau sebagai satu objek pertama dalam apa yang akan aku jelaskan. Kau setuju, Rendy?”

“Ok, aku setuju.”

“Jadi begini, Rendy. Kau mungkin pernah merasa bahwa kau telah berjalan di atas jembatan yang kau sebut cinta. Kau-pun menyangka bahwa jembatan itu sesungguhnya menuju hati orang yang kau cintai, padahal tidak. Sesungguhnya kau tertipu. Kau menipu dirimu sendiri dan bisa jadi kau menipu orang yang kau cintai itu. Contoh, nih! Disaat sholat dan berdoa, semisal ditimbang, kau lebih berat ke mengingat dosa-dosamu atau lebih banyak ke mengingat orang yang kau cintai sambil berharap banget dari sholat dan doamu itu Tuhan akan mengsihimu dengan memberikan orang yang kau cintai itu padamu? Jika doamu lebib berat kepada mengingat si dia, sesungguhnya kau menipu dirimu. Bukankah dosa-dosamu lebih penting untuk didoakan agar Tuhan mengampuninya? Kecuali kau sudah tidak punya dosa, Rend! He he he!”

Rendy tertegun dengan penjelasan Aminullah. Ia sadar bahwa sholat dan doanya ternyata masih tercampuri dengan hal yang tidak murni. Ia sadar bahwa ada yang lebih penting untuk ditangisi dalam sholat dan doa. Seharusnya ia sholat dan berdoa agar dosa-dosanya diampuni. Malu rasanya meminta banyak hal sedang dosanya dibiarkan tanpa dimintakan ampunan dengan srius. Dalam hal asmara, Rendy sadar bahwa di dalam sholat dan doa-doanya ia lebih serius meminta seorang kekasih dibanding meminta ampunan dosa.

“Ia, Min! Aku paham sekarang. Tapi, bukankah itu bukan jawaban dari pertanyaanku, Min? Rendy membantah.

“He he he! Ia. Aku memang belum menjawabnya. Aku ingin kau mencerna pengantarnya terlebih dahulu, agar kau tidak banyak tanya nanti kenapa aku ngejomblo sampai sekarang,” ucap Aminullah dengan senyum lebar. “Rendy, Apa kau mau menipu dirimu sendiri? Apa kau mau doa-doamu itu tercampuri dengan hal yang tidak sepenting doa-doa pengampunan? Sholat dan doa itu bagaikan air suci satu gelas, air itu akan menjadi kotor bila dicampur dengan sesuatu yang kotor meskipun kecil. Intinya, aku tidak ingin tertipu dengan hal demikian dan aku tidak ingin mencampuri doa-doaku itu dengan hal demikian. Aku ingin serius memohon ampunan saja. Aku tahu bahwa aku tidak pernah lepas dari dosa, setiap hari,” ucap Aminullah sembari meminum air putih di depannya. Air di botol itu tinggal seperempat. InsyaAllah cukup diminum sampai penjelasannya kepada Rendy selesai, “alasan kedua, hampir sama dengan logika yang aku sampaikan tadi. Pernikahan itu adalah suatu ibadah, suci, dan murni. Ia bagaikan air satu gelas, jernih, suci. Jika satu gelas air putih itu dicampur dengan sadikit saja kotoran (najis), maka air itu tidak bisa digunakan lagi untuk bersuci, musta’mal. Air yang awalnya dapat menyucikan apapun termasuk hadast, tiba-tiba berubah menjadi kotor (najis) dan tidak dapat digunakan menyucikan jangankan hadast, benda kotorpun tidak bisa disucikan dengan air itu. Oia, Min! cukup disitu saja, ya! Aku tidak bisa menjelaskan secara detail sebab kau bukan lagi anak-anak. Kau mampu berpikir dan mencerna apa yang aku jelaskan tadi.”

“Ok. Siap, Bro!” tangkap Rendy, sigap, “oia, Min! bagaimana pendapatmu tentang mencintai plus bekomitmen?”

“Karena kamu nanya ke aku, maka akan aku jawab sesuai versiku. Bagiku, belum bernama cinta dan komitmen jika kau tak mampu menghalalkan dirinya dalam jangka waktu tertentu, sebulan atau paling lama 40 hari setelah kau meyakini bahwa dia adalah orang yang benar-benar kau cintai untuk menemani hidupmu dalam beribadah kepada Tuhan,” jelas Aminullah. Ia meraih botol berisi air seperempat tadi dan meminumnya. Setelah habis diminum ia melanjutkan penjelasannya, “Itulah sebanya selama ini aku bersikukuh untuk tidak lagi mengurusi cinta. Aku percaya bahwa Tuhan lebih tahu tentang cinta daripada aku atau siapapun. Tuhan hanya memberiku ruang dan waktu. Didalam ruang, Tuhan memberikan aku kebebasan untuk berinteraksi dengan siapapun, mencintai dan berbuat baik kepada mereka semua, siapapun itu. Di atas waktu, aku percaya bahwa Tuhan telah menuliskan nama seorang yang akan mencintaiku. Akut tinggal berjalan saja di lorong waktu itu, jika sudah sampai waktunya untuk bertemu, maka dengan cara apapun Tuhan akan mempertemukanku dengannya, apapun caranya dan siapapun orangnya,” jawab Aminullah.

“Ok, Bro! Dari itu aku paham bahwa selama ini aku keliru memahami cinta dan komitmen. Jika disimpulkan, kita harus fokus dulu meminta ampunan kepada Tuhan. Jika kita diampuni maka Tuhan akan Ridha kepada kita. Jika Tuhan Ridha kepada kita, jangankan harta, jodohpun akan Tuhan berikan. Raihlah cintanya. Jika cintanya sudah diraih maka cinta ciptaannya juga akan diraih,” ucap Rendy sambil merapikan botol kosong, plastik camilan dan beberapa buku. “Ternyata Aminullah tidak hanya mengonsumsi banyak Air putih, ia juga gemar mengonsumsi buku,” gumam Rendy dalam hati.

“Rendy, jangan percaya pada apa yang aku ucapkan. Aku takut setan-setan mengiringi setiap kata yang aku ucapkan tadi.” ucap Aminullah mengakhiri perbincangan.

“Ok, Bro! Santai saja.”


***

Jarum jam bergerak menghampiri angka satu. Bintang-gemintang masih tetap dengan cahayanya, sementara mata kedua pemuda itu sudah mulai redup, tidak ada lagi cahaya. Mereka lalu beranjak untuk tidur meninggalkan bintang dan cahayanya, meninggalkan gelap dengan dinginnya, meninggalkan udara dengan segarnya. Mereka tidur dengan kepala bersih, tanpa beban sebab segala urusan dunia mereka diserahkan kepada yang Maha. Tidur mereka dininabobokkan dengan Dzikir dan doa-doa sebelum tidur hingga mereka terlelap.


****

#We're waiting for your critics and comments. We are not perfect. We are just trying to be. So, help  us to be perfect.
#CintaSesuciAirSuciYangMenyucikan
#CeritaTentangCinta
#CeritaTentangNilaiDanMaknaHidup

Komentar

  1. Kenapa pada setiap paragraf baru dengan mudahnya menghadirkan tokoh baru, padahal tokoh sebelumnya karakteristik nya belum melekat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena dua tokoh itu sudah ada dalam cerita2 sebelumnya di blog ini, jadi di cerita ini kedua tokoh itu dianggap sudah akrab sehingga perpindahan ceritanya cepat dan dekat jaraknya.

      Semoga bisa menjawab.

      Hapus

Posting Komentar

Terimakasih telah memberikan komentar!
Akan kami tanggapi komentar anda dalam waktu dekat.