Adzan sholat subuh berkumandang dan menggema di setiap lorong-lorong sekitar masjid
Al-Furqon. Suara adzan itu menyelinap masuk dengan lirih melewati sela-sela
jendela kamar. Begitupula di kamar Rendy. Rendy yang masih menyimak dan menelaah
pesan panjang Aminullah dengan segera meletakkan handphone dan menyimak adzan.
Jam menunjukkan pukul 04.00. Rendy menyudahi percakapannya dengan Aminullah
tentang mimpi yang dialami Rendy tadi malam. Ia bersegera wudlu da beranjak
keluar rumah menuju masjid. Letaknya tidak jauh, hanya 300 meteran dengan dua
belokan ke kiri dan ke kanan. Jarak itu sangat dekat sebab sudah biasa, setiap
pagi, Rendy tempuh dengan jalan kaki. Rendy rajin sholat subuh berjamaah di
masjid. Selain karena sholat subuh menjadi salah satu tolok ukur kedisiplinan
seorang laki-laki, ia memiliki jadwal setoran hafalan kepada ustadz Subahri.
Hari ini ia tidak nyetor hafalan. Ia harus memurojaah satu Juz yang ia hafal
tiga hari sebelumnya.
Selepas sholat subuh, seperti biasa Ustadz Subahri mengisi kultum yang disampaikan
dengan menggunakan pengeras suara Masjid. Tujuannya, agar para jamaah perempuan
yang atau jamaah laki-laki yang sholat di rumah juga bisa ikut mengaji. Pada
kultum kali ini, Ustadz Subahri memberikan penjelasan tentang makna sebuah
kepasrahan. "Pasrah berarti kepatuhan yang luar biasa. Kepercayaan bahwa
diri ini tidak memiliki kekuatan apapun untuk melakukan sesuatu merupakan
kepasrahan yang sesungguhnya. Seperti air hujan diatas awan sebelum turun ke
bumi. Ia pasrah turun tanpa bertanya dimana dan kapan ia harus turun. Kenapa
air hujan pasrah? karena ia tak punya kekuatan untuk menentukan nasib di bagian
bumi yang mana ia harus turun" jelas Ustadz Subahri di bagian akhir
cermahnya. Jamaah sholat subuh masjid Al-Furqan mendengarkan kalimat-kalimat
itu dengan seksama. Begitupun Rendy. Ia mencoba menyelami kalimat-kalimat itu.
Namun, ia belum paham seluruhnya. Ia masih memahami bahwa pasrah itu, ya
menyerahkan seluruh urusan kepada Allah. Apalagi dalam hal jodoh. Ia tak punya
wewenang apa-apa untuk mereka-reka atau bahkan menentukan pilihan siapa yang
hendak dijadikannya jodoh. Bahkan ia pasrah kepada takdir untuk menentukan
siapa jodohnya kelak.
Kultum sudah usai. Para jamaah saling berjabat tangan. Yang sudah berjabat tangan
dengan jamaah disampingnya masing-masing, jamaah berdiri hendak bersalaman
dengan ustadz Subahri. Di majlis itu, salam dengan berjabat tangan merupakan
bentuk penguat ikatan persaudaraan dengan sesama dan penghormatan kepada Ahli
Ilmu.
Rendy
ingin salaman di bagian akhir. Ia menunggu yang lain selesai salaman dulu. Satu
persatu jamaah selesai bersalaman. Rendy berdiri antre dibagian akhir. Ia
takdzim mencium tangan Ustadz Subahri. "Rendy, Afwan, ya! Murojaahnya
ditunda nanti pukul 6.00 ya di rumah. Saya harus mengantar istri ke pasar, mau
beli obat herbal. Dzikri, adeknya Khumairah sedang sakit," ucap
Ustadz Subahri sambil memegang tangan Rendy. "Iya, baik Ustadz. Saya ke
rumah Ustadz sebelum pukul 06.00, InsyaAllah," balas Rendy sambil
menundukkan pandangan sebagai bentuk takdzim dan penghormatan. Seluruh jamaah
sholat Jumat sudah berangsur pergi satu persatu.
Di
jalan, usai dari masjid, Rendy berjalan pelan. Tasbih di tangannya tak henti
berputar. Sholawat dan istighfar senantiasa ia baca. Mulutnya berdzikir memohon
ampun, hati terpaut menggantung kepada Tuhan, dan pikirannya mengingat-ingat
dosa yang pernah ia lakukan. Ia pasrah dan menitipkan dosa-dosa itu pada
kalimat istighfar yang ia baca agar sampai ke haribaan Tuhan untuk diberikan
jatah ampunan. Rendy sadar bahwa dalam sehari, tak terhitung berapa kali
hatinya tergelincir berbuat dosa. Betapa malu dirinya jika harus masuk kedalam
Kubur dengan badan berlumur dosa. Sebab itulah, setiap hari ia selalu
berdzikir.
=======
Hari
Minggu adalah hari untuk keluarga. Begitulah bagi kebanyakan orang yang sudah
bekerja. Hari Minggu adalah jatah husus untuk keluarga setelah satu Minggu
berjauhan dengan mereka sebab pekerjaan masing-masing. Bagi yang punya istri
dan anak, hari Minggu disisakan untuk mereka. Ada yang menghabiskan hari
minggunya di rumah saja, ada juga yang menghabiskannya di tempat-tempat wisata.
Sedangkan bagi Rendy, hari Minggunya selalu ia habiskan untuk ibu dan bapaknya.
Ia sangat bersyukur meskipun belum berkeluarga. Sebab ia masih punya banyak
waktu untuk mengabdi, merawat dan memberikan seluruh rasa kasih dan sayangnya
kepada kedua orang tuanya. Rendy menghampiri Ibunya yang sedari tadi subuh
masih dibalut dengan mukena.
"Ibu,
nanti Rendy mau ke rumah Ustadz Subahri. Tadi tidak jadi memorojaah di masjid
soalnya beliau ada perlu. Rendy diminta ke rumah beliau nanti, bu," ucap
Rendy kepada ibunya meminta izin.
Pukul
5.50 Rendy sudah di rumah Ustadz Subahri. Ia dipersilahkan duduk di ruang tamu.
Rendy membuka percakapan dengan menanyakan keadaan Dzikri. Ustadz Subahri
menjelaskan bahwa benarnya Dzikri baik-baik saja. Dia hanya masuk angin.
Tadi malam dia main futsal sampai larut malam. Tim futsalnya kebagian jam agak
larut. Maklum, tempat futsal di sana cukup padat di malam Minggu.
Sesuai
janji, tepat pukul 6.00, Ustadz Subahri mempersilakan Rendy memulai
murojaahnya. Rendy memejamkan mata terlebih dahulu sebelum murojaah untuk
memanggil memory yang telah merekam ayat demi ayat Juz 10 sambil membaca
Basmalah.
Satu
lembar, dua lembar dan lembar2 lainnya mampu Rendy lewati dengan lancar. Ustadz
Subahri terkagum-kagum dengan kelancaran Murojaahnya. Ustadz Subahri sampai
menggeleng-geleng kepala menyaksikannya. Sangat mustahil bagi kebanyakan orang
yang sibuk bekerja bisa hafal satu juz dalam waktu tiga hari plus murojaah yang
hampir tidak ada kesalahan. Tapi Rendy mampu membuktikan bahwa kesibukan dunia
tidak dapat menghalangi kecintaannya terhadap Al-Qur'an. Sungguh dapat menjadi
contoh bagi siapapun yang memiliki kesibukan pekerjaan untuk menghafal
Al-Qur'an.
Rendy
sampai pada lembar ke sembilan. Tinggal satu halaman ia baru bisa genap dan
lancar murojaah juz 10. Tapi entahlah, ada saja hal yang mengganggu
konsentrasinya. Tiba-tiba ada suara perempuan memanggil salam dari luar. Ustadz
Subahri meminta Rendy berhenti sejenak hendak mengonfirmasi siapakah tamu yang
datang. Ternyata Ayu. Ia ditemani oleh teman karibnya, Kayla. Sebenarnya ustadz
Subahri sudah menyangka siapa yang datang. Sebab, setiap hari Minggu pukul 6.30
Ayu dan Kaila datang ke rumah beliau untuk menyetor hafalan. Sementara Rendy
mulai gemetar. Orang yang datang menyatakan cinta di dalam mimpinya, tiba-tiba
akan duduk dan mendengarkan bacaan Al-qurannya. Ia butuh keberanian dan
ketenangan untuk melanjutkan. Ia mengatasi gemetarnya dengan meminum air putih
di depannya. Dua gelas habis diminum sebelum Ayu dan Kayla masuk. Ia harus
bersikap tenang. Ia memaksakan diri menundukkan wajah setelah seketika melihat
Ayu dan Kayla masuk.
Setelah
Ayu dan Kayla duduk di deret kursi sebelah kanan dari Rendy, Ustadz Subahri
meminta Rendy untuk melanjutkan murojaah. Beliau tidak tahu kondisi Rendy yang
sedang gemetar berada dekat dengan Ayu. Yang beliau tau adalah bahwa murojaah
Rendy kali ini sangat lancar. Karena sudah yakin dengan kelancaran murojaah
Rendy di lembar-lembar sebelumnya, Ustadz Subahri mendengarkan bacaan Rendy
sambil membalas pesan masuk di handphonenya. Rendy tiba di ayat terakhir dan
... salah. Ayu reflek dan tidak sengaja menegurnya.
"
فَهُمۡ لَا یَعۡلَمُونَ..
,"
tegur
Ayu spontan mendengar bacaan Rendy yang keliru. Rendy sontak tercengang. Ia
gemetar luar biasa. Ayat-ayat yang sedari tadi ia murojaah dengan lancar seakan
terbang keatas langit. Rendy tak mampu memanggilnya.
"Maaf,
Ustadz. Ayu tidak sengaja menegur," ucapan maaf Ayu kepada Ustadz Subahri
sebab telah lancang mengambil alih menegur bacaan Rendy.
"Tidak
apa-apa, Ayu. Saya malah berterimakasih. Saya tidak sadar kalau kalimat
terakhir salah," balas Ustadz Subahri sambil memandang Rendy yang mulai
berkeringat.
"Coba
baca kalimat terakhir, Rendy!" Pinta Ustadz Subahri.
"
فَهُمۡ لَا يؤمنون
...,"
Rendy
mencoba menebak kelanjutannya dan salah. Rendy menggantinya dengan kalimat yang
lain namun tetap salah. Hingga Ustadz Subahri menunjukkan ayatnya
langsung di Al-Qur'an Android di handphonenya. "Teguran Ayu tadi benar
Rendy. Kenapa kau tidak memakai kalimat Ayu tadi," ucap Ustadz Subahri
sambil senyum-senyum melihat tingkah Rendy yang gemetar, berkeringat dan diam
seribu bahasa. Ayu dan Kayla juga tersenyum sambil ditutup dengan kerudung
mereka.
Sungguh
aneh, murojaah Rendy kali ini gagal lancar. Digagalkan oleh satu kalimat yang
dibaca Ayu. Teguran itu seakan menjadi pukulan telak kepada Rendy bahwa ada hal
yang harus Rendy pelajari untuk menjaga fokus dalam memurojaah hafalannya,
nerves. Ya! itu dia. Nerves ketika berada di depan seorang perempuan yang
pernah menyapanya meskipun di dalam mimpi.
Setelah
selesai murojaah, Rendy segera pamit pulang. Ia tak kuasa menahan keringat
dingin di tubuhnya. Ia ingin segera keluar dan menghirup udara segar tanpa ada
campuran nerves.
Di
jalan, keringat di tubuhnya mulai mengering dihebus oleh udara dingin pagi
hari. Sebelum keringat di tubuhnya kering, ia tak sengaja memikirkan makna
kalimat yang keliru ia baca. " لَا یَعۡلَمُونَ" yang artinya "mereka tidak
mengetahui".
Ada
alasan kenapa Rendy bisa gagal lancar di murojaahnya kali ini. Ia masih
mengaitkan sesuatu yang abstrak dengan kehidupan nyata. Ia menganggap Ayu yang
datang ke rumah Ustadz Subahri adalah sama dengan Ayu yang datang dalam mimpi
tadi malam, padahal berbeda. Ayu datang dengan tidak merasakan apa-apa. Tidak
ada keganjilan dalam dirinya. Keganjilan itu hanya terjadi dalam diri Rendy
yang melebih-lebihkan mimpinya. Rendy akan sangat lancar tanpa kesalahan
satupun jika konsentrasinya konsisten tanpa dicampur dengan perasaan gugup
dengan datangnya Ayu.
Belajarlah
untuk realistis melihat sesuatu. Meskipun sesuatu yang dipandang realistis itu
belum tentu dapat menguntungkan, setidaknya sesuatu itu tidak menggangu
kehidupan yang berjalan normal.
Home_id

Keren banget. . . Ditunggu kelanjutannya... 😍🥰
BalasHapus