Selamat Malam



Aku harap kau membacanya di waktu malam. Sebab, aku ingin mencurahkan sesuatu padamu di waktu yang sunyi. Ah! Kok tiba-tiba aku sok akrab dengan kamu, ya? Tak apalah! Karena memang tidak ada motif apapun dalam tulisan ini. Aku hanya ingin menorehkan tinta dalam secarik kertas yang senantiasa tak pernah mengeluh bahkan bosan menjadi tempat kisah kisahku dituangkan.


Aku hanya ingin bercerita. Itu saja!


Ceritaku malam ini adalah tentang bunga di halaman rumahku yang berubah menjadi layu dan mengering. Aku merawat bunga itu. Menyiraminya setiap pagi, memberinya pupuk yang baik dan membuang hama yang mecoba menggerogoti daunnya tapi bunga itu tatap saja layu, mengering dan mati. Entah apa yang keliru. Apa aku yang salah merawatnya atau memang akar bunga itu yang tidak lagi kuat menahan panas. Entahlah! Akhirnya, aku berpikir bahwa bunga itu harus diganti dengan bunga yang baru. Aku tak bisa membiarkan tanah dalam pot itu kering. Bila tanah itu kering, butuh waktu lama untuk bisa ditanami tanaman lagi. 


Ok! Aku putuskan untuk menggantinya dengan bunga segar baru. Aku berjanji akan merawat bunga yang baru itu sebaik aku merawat bunga sebelumnya. Aku akan menyiram bunga itu setiap hari agar ia tumbuh indah dan tak lagi layu. Barangkali, nanti, bunga itu tumbuh subur dan berwarna indah dan nyaman dipandang. Kau tahu? Aku menanam banyak bunga di halaman rumahku. 


Bunga-bunga itu semakin hari semakin rajin kurawat. Tentu dengan caraku sendiri. Meskipun sesekali aku hawatir takut kalau-kalau aku salah menyiramkan air, salah memberi pupuk, dan salah memberinya asupan sinar matahari yang cukup. 


*****


Oh, iya! Aku belum memberitahumu tentang bunga-bunga itu. Tenanglah! akan aku ceritakan juga tentang bunga yang layu dan mati dan bunga yang baru aku tanan di pot yang sama.


Aku menanam tangkai bunga didepan rumahku di waktu malam. Aku menemukan bunga itu di semak-semak di pinggir jalan di sore hari saat aku hendak pulang dari tempat kerja. Sebuah tangkai plus kelopak bunga yang indah dan daunnya berwarna ungu. Tangkai bunga itu berduri, tapi keindahan warna kelopak dan daunnya membuatku tak menghiraukan durinya. Entah apa nama bunga itu. Aku belum pernah melihat bunga itu sebelumnya. 


Sesampainya dirumah, aku tidak langsung menanam tangkai bunga itu sebab masih banyak pekerjaan rumah yang harus aku selesaikan. Waktu sudah mulai larut. Mata sudah mulai tak dapat diajak kompromi. Dan bunga itu, Ya! Tangkai bunga itu belum aku tanam. Bergegas aku mengambil bunga yang tadi sore aku bawa. Ternyata bunga itu tak sesegar tadi sore saat aku pertama melihatnya. Tapi tidak apa-apa. Bunga ini harus aku tanam. Siapa tahu besok pagi bunga ini segar kembali. Oh, iya! Akan aku beri nama bunga ini Bunga Malam sebab bunga ini ditanam di waktu malam. Nggak apa-apa, kan? Sekalipun kamu nggak setuju, aku tetap menamainya Bunga Malam. He he he!


Setiap pagi, aku menghampiri Bunga Malam. Mengucapkan "Selamat Pagi" layaknya ucapan pada Manusia. Sudah aku sediakan segala peralatan untuk merawatnya. Aku sangat berharap bunga ini tumbuh subur dan aku ingin melihat kelopak bunga yang baru dari Bunga Malamku. 


*******


Harapan tentang bunga itu tak seperti imajinasiku. Hari-demi-hari bunga itu tak kunjung tumbuh dengan subur. Sebaliknya, bunga itu semakin hari semakin layu. Aku pesimis pada Bunga Malam. Sesekali aku membatin "Sepertinya bunga ini memang tidak bisa tumbuh subur, sepertinya aku sudah terlalu berharap pada bunga ini, dan sepertinya aku sudah tidak sanggup lagi merawat sesuatu yang tak dapat aku rawat. Lalu, sampai kapan aku menunggu bunga ini tumbuh subur sedang ia semakin hari semakin layu?


Aku mulai sadar. Bukan karena aku menyapanya terlalu pagi semenjak Bunga Malam kutanam dan bukan karea aku kurang merawatnya. Tapi, mungkin ada sebab lain yang membuatnya layu, kering dan mati. Entah apa penyebabnya. Setelah itu, aku memilih untuk membuangnya dan menanam bunga-bunga indah baru dihalaman depan agar dapat mengisi kosongan halaman rumah. Ingat! Aku menanam bunga-bunga bukan bunga. Itu artinya aku menanam tidak hanya satu bunga sebab aku tidak ingin kecewa keduakalinya. 


*****


Bunga-bunga yang baru aku tanam tumbuh dengan perlahan. Mereka tumbuh subur, segar dan indah. 

Ada warna baru yang menghiasi halaman rumahku. 


Aku tidak akan pernah membiarkan bunga-bunga itu layu. Aku akan selalu merawatnya. Bagiku, ini bukan janji sebab apa yang akan aku lakukan pada bunga-bunga itu berbatas pada kemampuanku melakukannya dan aku tidak menjamin bunga-bunga yang aku rawat bisa tumbuh subur. Mungkin saja ada beberapa bunga yang meskipun aku siram tetap saja layu, kering dan akhirnya mati seperti Bunga Malamku itu.


Sesekali aku hanya menikmati keindahan bunga-bunga di halaman rumahku tampa harus menyiramnya karena gerimis sering kali menyapanya dan matahari menghangatkannya . Aku paham bahwa tidak cukup hanya aku yang merawat bunga-bunga itu. Ada gerimis yang juga bisa memberinya kasih sayang dan meredakan dahaganya, ada matahari yang mampu menghangatkannya, dan ada kumbang dan kupu-kupu yang bisa mengajaknya bermain dan tertawa. Meskipun sesekali aku cemburu melihat kemesraan bunga-bunga dengan gerimis, kupu-kupu dan kumbang dari sela-sela jari-jemariku yang menutupi mata.


*******


Aroma harum bunga-bunga mulai menghiasi suasana pagi. Harumnya semerbak hingga ke setiap sudut rumahku. Harumnya membuatku rindu ingin melihat bunga-bunga itu. Aku ingin pagiku berdurasi panjang. Aku ingin menikmati semerbak harumnya. Aku ingin bunga-bunga itu abadi. Tapi, aku sadar bahwa suatu saat bunga-bunga itu akan bernasib sama denga Bunga malam. 


Aku tidak pernah tahu sampai kapan bunga ini akan tumbuh subur menghiasi halaman. Aku hanya bertanya dan tidak menuntut jawaban atas pertanyaanku. Sebab adakalanya setiap apa yang terjadi tidak harus dicari apa sebabnya. Begitupula dengan pertanyaan kenapa sesuatu harus terjadi, kadang tidak memerlukan jawaban.


Aku yakin, ada saatnya sebuah jawaban tidak kita dapat dari perkataan tapi melalui pengembaraan yang melibatkan waktu. Seperti detik jarum jam yang berputar. 

Komentar