Jangan lupakan sholat, nak!



Sowan kepada kiyai (Guru) merupakan sesuatu yang sering dilakukan oleh para santri atau alumni. Tujuannya tidak hanya sekedar untuk bersilaturahmi akan tetapi untuk mendapatkan wejangan. Wejangan-wejangan dari kiyai terkadang disampaikan dengan kalimat yang gamblang dan jelas penekanannya untuk dikerjakan adapula yang disampaikan dengan kalimat pendek tapi memiliki makna yang sangat luas. Butuh perenungan terhadap makna untuk bisa memahami kalimatnya. Kiyai Muhammad Syamsul Arifin misalnya. pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar itu seringkali menyampaikan kalimat yang pendek namun memiliki makna yang sangat luas kepada santri atau alumni yang sowan. Seperti contoh “Jangan lupakan sholatnya, Nak!” Sekilas, kalimat “Jangan lupakan sholatnya, Nak!” hanyalah seruan untuk mengingat sholat atau dengan kata lain sholatlah lima waktu. Sangat simpel. Tapi seruan itu tidaklah se-simpel kalimat tersebut. Apa maksud dari kalimat tersebut? Lalu, apa makna luas yang terkandung didalamnya?.

Baiklah! Yuk, sajikan secangkir teh hangat dulu sebelum mengulasnya agar urat-urat otak menjadi releks dan mudah memahaminya.


Kalimat yang disampaikan Kiyai Muhammad Syamsul Arifin merupakan kalimat seruan atau ajakan yang cenderung menekankan pada curahan kasih sayang kepada seorang anak dan mengingatkan kepada sang anak untuk rajin beribadah (Sholat). Dari kalimat tersebut beliau seakan berpesan bahwa ukuran dari diri kita dihadapan Allah adalah seberapa konsisten kita melaksanakan sholat.

Makna luas lainnya adalah bahwa dalam kondisi apapun sholat tetaplah harus dilaksanakan. Perasaan rendah diri pada seseorang yang sering berbuat salah dan dosa cenderung membuatnya tidak percaya diri untuk menghadap Allah (sholat). “Ah! Aku kan banyak dosa. sepertinya meskipun aku sholat, sholatku pasti sia-sia. Sudah terlampau banyak dosaku?” kalimat itulah yang mungkin saja terlontar dari seseorang yang merasa dirinya berdosa. Terlepas apakah alasan tersebut adalah alasan utama atau tidak, Allah tidak membatasi kewajiban sholat kepada umatnya. 

Seruan diatas, jika dipahami dari hati sebagai wejangan orang tua terhadap seorang anak, memliki pemahaman bahwa pewajiban sholat tidak dibatasi hanya untuk mereka yang bersih dari dosa, mereka yang berbaju koko dan mereka yang bersorban akan tetapi mereka yang sering atau merasa punya banyak dosa, mereka yang berpakaian lusuh, mereka yang bertato, mereka yang minum minuman keras, mereka yang berjudi, mereka yang menipu dan lain sebagainya tetaplah wajib melaksanakan sholat.


Fenomena lain yang terjadi di lingkungan pelajar mahasiswa (hususnya yang alumni pondok pesantren) adalah; beberapa diantara mereka yang belajar ilmu filsafat. Pendek cerita mereka menjadi mahasiswa yang skeptis pada lingkungannya. Sampai-sampai mereka mempertanyakan soal sholat. “Untuk apa sholat? Kenapa harus nyungsep-nyungsep untuk menhadap tuhan?” begitulah kira-kira pertanyaanya. Akhirnya, karena mereka merasa belum menemukan kebenaran tentang hal tersebut menjadikan mereka malas dan enggan untuk melaksanakan sholat.


Dengan demikian, dari pesan kiyai Muhammad Syamsul Arifin tersebut dapat dipahami bahwa beliau berpesan kepada para santrinya untuk tetap melaksanakan sholat dalam keadaan dan kondisi apapun. Beliau seakan paham bahwa para alumni santri beliau tidaklah seluruhnya berada dalam lingkungan hidup yang agamis. Tetapi banyak diantara mereka yang hidup dilingkungan yang tidak agamis. Sehingga beliau berpesan satu “Jangan lupakan sholatnya, Nak!” dengan tujuan mengingatkan bahwa sholat itu wajib dalam setiap kondisi diri seseorang. Kondisi seseorang tidak dapat merubah tingkat kewajiban sholat untuk dilaksanakan.

Bagaimana, apa kopinya sudah diseruput? Seruputlah dulu biar tidak tegang!


Cukup dulu untuk kali ini. Mungkin lain waktu kita bisa berbicang lagi dengan menyeruput nikmatnya kopi hitam.

Komentar

Posting Komentar

Terimakasih telah memberikan komentar!
Akan kami tanggapi komentar anda dalam waktu dekat.