(gambar: Hidayatullah.com)
Sehari sebelum hari raya ‘Ied
Al-Fitr, Ibu Aminullah menanyakan kepada anaknya, Aminullah, "cong
(kacong) ... mayuh norok Ibuk ka pasar. Kakak'an nyoro melleagi bek'en
kalambhi."
Aminullah menjawab ajakan ibunya pelan, "ampon tak manabhi buk. Kabelenjeh saos obengah kangguy tamoy lagguk lastarenah sholat tellasan. Rasobennah kauleh se eparenge anom sabbenah namong gik bedeh kakdissak se e angguye tellasan."
(("Nak ... ayo ikut Ibu ke pasar. Kakakmu minta
tolong ke Ibu beliin kamu baju.")
("Terimakasih, tidak usah Ibu. Uangnya dibelanjakan saja buat tamu-tamu yang berkunjung besok sesudah sholat 'id. Bajuku yang dikasih om masih ada kok bu buat besok pas hari raya."))
("Terimakasih, tidak usah Ibu. Uangnya dibelanjakan saja buat tamu-tamu yang berkunjung besok sesudah sholat 'id. Bajuku yang dikasih om masih ada kok bu buat besok pas hari raya."))
***
Begitulah kira2 percakapan kemarin pagi antara
Aminullah putra ketiga dari lima bersaudara dengan ibunda tercintanya di depan
musholla kecil sebelah kiri teras rumah . Percakapan itu sangatlah singkat.
Ajakan yang biasanya menghasilkan ekspresi kebahagiaan malah di sambut dengan
penolakan halus datang dari wajah lugu Aminullah. Senyum yang penuh ikhlas ia
berikan kepada ibundanya. Sehingga, penolakan itu tak terlihat menyakitkan beliau
atau siapapun yang mendengarnya. Seketika ibundanya tercengang dengan mata
berkaca-kaca mendengar jawaban yang beliau sendiri tidak tahu apa yang
menyebabkan Aminullah bisa berkata se-mulia itu apalagi diusianya yang masih
muda.
Setetes berlian kecil
memaksa keluar dari kelopak mata sang bunda, sembari merangkul putra ketiganya
itu dengan penuh kebanggaan. Beliau yakin bahwa putranya sedang mengamalkan
suatu ilmu meskipun hanya dalam hal pakaian, bahwa putranya bukanlah anak
ingusan yang merengek2 memaksa untuk dibelikan baju baru dan bahwa putranya
bukanlah anak yang labil ketika keinginannya tidak dituruti. Keyakinan beliau
sangat kuat karena sering mendegarkan ceramah bulanan di salah satu kegiatan di
kampung tentang tatakrama dan batasan-batasan dalam berpakaian.
Aminullah masih dalam
pelukan hangat ibundanya. Suasana haru itu didengar oleh sang bapak yang sedari
tadi melaksanakan sholat Dhuha. Sang bapak beranjak dari sejadah yang ia gelar
dan melangkahkan kakinya menuju istri dan anaknya yang dibalut keharuan dan
kebanggaan. Beliau menyampaikan suatu ilmu kepada keduanya dengan bahasa Madura
yang halus.
"Saestonah rasophen gepanika cong coma kaangguy
notopen 'aurat. Benne kaangguy a gaya. Angguy bedhenah cong. Se penteng socceh
ben tak cek jhube'en. Polanah sareng Rosulullah tak olle ngangguy angguyen se
cek mapannah otabeh se cek jube'en. Apa pole entarah ka Masjid, socceh cong se
nomer settong."
("Nak ... sesungguhnya pakaian itu hanya untuk
menutupi aurat. Bukan untuk bergaya. Pakailah pakaian seadanya nak ya. Yang
penting masih suci dan tidak terlalu jelek (lusuh). Karena kata Rosulullah
tidak boleh memakai pakaian yang terlalu bagus(menimbulkan kesombongan) dan
terlalu jelek (lusuh yang menampakan zuhud dan riya). Apalagi kalau mau ke
masjid, suci yang paling utama nak.")

Komentar
Posting Komentar
Terimakasih telah memberikan komentar!
Akan kami tanggapi komentar anda dalam waktu dekat.