Suasana malam Minggu kota santri
memang sangat ramai. Pukul 9 malam, jalan raya masih ramai berlalu lalang
kendaraan. Toko-toko masih dipenuhi pembeli yang antri. Toko husus jual sayur
dan bahan masakan paling ramai dari yang lain. Sepertinya, setelah menikmati
malam Minggu, toko itu adalah tujuan terakhir dikunjungi sebagian orang sebelum
pulang. Mungkin, mereka membeli sayur untuk masak besok pagi. Daripada harus
keluar besok pagi, mending beli sekarang saja.
"Rend, kita keliling kota dulu,
ya! Vespaku ini jarang diajak jalan-jalan soalnya, biar nggak karatan. Kayak
kamu." Aminullah menggoda sahabatnya yang sedari tadi termenung.
"Ah! Kamu juga Cong. Jalan-jalan
biar nggak karatan. Dasar Zzzombloww," balas Rendy.
Gelak tawa menyeruak dari mereke
berdua, nyaring sekali tapi masih kalah dari bunyi Vespa yang dikendarainya.
Mereka tepat berada di depan toko yang menjual sayur. Orang-orang menoleh
sebentar dan segera fokus melihat-lihat sayur. Ternyata bunyi Vespa mengganggu
fokus mereka.
====
Keliling kota santri pakai Vespa cukup
mengasyikkan. Tak terasa waktu sudah pukul 10 malam. Warung-warung, cafe dan
gerobak-gerobak sudah mulai dirapikan, tanda sudah mau tutup. Rendy dan
Aminullah berhenti sejenak di alun-alun kota.
Ada satu orang yang belum beres-beres,
bapak-bapak kisaran umur 45 tahunan. Terlihat box kayu dipasang diatas motor
bagian belakang bertulis "Jual Roti Goreng".
"Ternyata si bapak jual roti
goreng," gumam Rendy dalam hati.
Roti goreng di dalam box masih tinggal
separuh. Diperkirakan sejak tadi tidak banyak yang membeli. Namun bapak penjual
roti masih semangat menunggu pembeli. Sepertinya dia yakin akan ada satu atau
dua orang lagi yang akan membeli roti gorengnya.
"Min, tunggu disini dulu,
ya!" Rendy meninggalkan Aminullah bersama Vespa kesayangannya. Amin belum
paham kenapa Rendy menyuruhnya menunggu. Dia baru paham ketika melihat Rendy
bergegas menuju penjual roti goreng. Amin heran, apa jam segini dia sudah
lapar?
"Selamat malam, Bapak!"
Dengan ramah Rendy menjabat tangan bapak penjual roti goreng.
Spontan si bapak
menerima jabat tangan Rendy.
"Masih ada roti gorengnya?"
"Masih, Nak! Mau beli
berapa?" Si bapak bangkit setelah sedari tadi duduk-duduk saja di trotoar
sebelah tiang lampu.
====
Mungkin memang sudah takdir Rendy malam
itu bertemu dengan orang-orang yang tidak sengaja memberinya banyak pelajaran
tentang hidup. Dari satu jam setengah yang lalu bertemu dengan tukang cukur
sampai satu jam setengah setelahnya bertemu dengan penjual roti bakar.
Sama seperti bapak tukang cukur, bapak
penjual roti bakar itu memakai trik cerita-cerita agar pelanggan betah dan
senang membeli barang dagangannya. Dia bercerita tentang kondisi masyarakat
Indonesia saat ini, utamanya Masyarakat Papua.
Seketika, Rendy teringat banyak hal
tentang Papua. Dia pernah membaca sebuah buku tentang Papua, judulnya PAPUA
ROAD MAP. Setidaknya, Rendy masih ingat 4 pokok pembahasan dalam buku itu.
Pertama masalah marjinalisasi dan efek diskriminatif terhadap orang asli Papua
sejak 1970. Kedua tentang kegagalan pembangunan terutama di bidang pendidikan,
kesehatan dan pemberdayaan ekonomi rakyat. Ketiga tentang adanya kontradiksi
sejarah dan konstruksi identitas politik antara Papua dan Jakarta. Dan yang isu
yang keempat tentang pertanggungjawaban atas kekerasan Negara di masa lalu
terhadap warga Negara Indonesia di Papua. Sungguh banyak sejarah kelam yang
dialami oleh masyarakat Papua. Mungkin dendam kesumat masih menyala-nyala dalam
hati mereka. Namun bukan hal itu yang akan menjadi ilmu untuk Rendy malam itu.
Rendy dengan seksama mendengarkan
pembicaraan ringan bapak penjual roti goreng. Saking ringan, sampai-sampai
Rendy tercengang dengan pembicaraan si bapak tentang konflik di Papua.
Sebenarnya Rendy sudah tahu perkembangan berita tentang konflik di Papua. Tapi
ada hal yang menarik dari pembicaraan si bapak yang Rendy belum sempat berpikir
ke sana sebelumnya.
"Lalu ... apa yang bisa kita
lakukan untuk membantu menyelesaikan konflik yang terjadi sekarang, Nak?
Sementara kalau bapak, tidak bisa turun langsung kesana, apalagi mau membuat
sikap tegas layaknya Pemerintah. Yang bisa aku lakukan hanyalah berdoa untuk
mereka agar mencintai Indonesia. Aku memohon kepada Dzat yang maha memiliki
cinta agar saudara kita di Papua mencintai NKRI kita," ucap si bapak
sambil mengambil plastik kresek. 10 roti bakar dimasukkan kedalam kresek.
"Lalu, bagaimana cara bapak
mendoakan mereka?" Rendy meluncurkan pertanyaan. Bagi beberapa orang,
pertanyaan itu adalah pertanyaan bodoh. Semua orang sudah pada tahu bahwa
berdoa itu, ya mengangkat tangan lalu berdoa. Tapi bukan itu yang ingin Rendy
ketahui dari si bapak. Yang ingin Rendy ketahui adalah bagaimana si bapak bisa
yakin bahwa doanya bisa membantu menyelesaikan konflik di Papua.
"Begini, Nak. Ada potongan ayat وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ yang artinya:
Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut
asmaa-ul husna itu. Ada satu dari 99 Asmaul Husna yang maknanya yaitu Dzat yang
Maha Mencintai." Si bapak berhenti sejenak.
"Lalu ... ?" Rendy bertanya
dengan mengerutkan alis, mencoba menelaah penjelasan si bapak. Rendy penasaran
dengan penjelasan selanjutnya.
"Bapak berdoa menggunakan Asma,
Yaa Waduud, Nak!. Ada tiga bagian yang bekerja ketika berdoa menggunakannya,
ketiganya bekerja bersamaan." Penjelasan si bapak membuat Rendy semakin
bingung mendengarnya.
"Mulut fokus berdzikir membaca
Yaa Waduud, Nak! Hati berdoa: Wahai Dzat yang maha mencintai, cintakanlah
Masyarakat Papua kepada Indonesia. Dan pikiran membayangkan wajah-wajah orang
Papua sebagai target dari doa yang aku panjatkan dalam hati. Ketiga bagian itu
bekerja bersamaan. Aku berharap dengan cara seperti itu Allah benar-benar
mendengar doaku. Aku berharap tidak hanya konflik di Papua yang bisa
terselesaikan tapi konflik Palestina, Rohingya dan saudara-saudara kita yang
lain juga bisa terselesaikan. Bagaimana, Nak, sudah paham?," tanya si
bapak dengan bibir tersenyum lebar sambil mengulurkan kresek berisi 10 roti
bakar kapada Rendy, pelanggannya.
Sementara Rendy yang sedari tadi
mendengarkan, baru paham setelah kresek sudah berada di depannya.
"Alhamdulillah paham, Pak!,"
jawab Rendy sambil nyengir.
=====
Lagi-lagi Rendy dibuat termenung
diatas Vespa. Tukang rambut dan bapak penjual roti goreng-lah penyebabnya.
"Kamu beli roti itu pasti bukan
karena kamu lapar, kan Rend?" Amin membuyarkan lamunan Rendy. Sementara
Rendy hanya membalas dengan sunggingan senyum lebar.
=====
Akhirnya Rendy paham bahwa sekalipun
tidak bisa secara langsung membantu menyelesaikan konflik di tempat yang jauh,
kita masih bisa membantu lewat doa. Ya, doa yang agung. Doa yang tidak sekedar
doa. Doa yang terucap tidak hanya di mulut. Doa yang mampu mengetuk pintu
langit. Doa yang sekali bergantung di langit langsung jatuh pada siapa doa itu
ditujukan. Doa yang terpanjatkan dengan kalimat Asma Yaa Waduud.
Berdoalah walau logika bersikukuh akan
ketidakmungkinan. Sebab apa yang tidak masuk akal akan menjadi sangat logis di
dalam doa.
=====
Pamekasan, 1 September 2019.
Oleh : Home-id

Komentar
Posting Komentar
Terimakasih telah memberikan komentar!
Akan kami tanggapi komentar anda dalam waktu dekat.