Happy Ending di Bulan Maulid



Minggu ini adalah minggu terakhir bulan November 2019 tahun Masehi atau bulan Rabiul-Akhir 1441 tahun Hijriyah. Bulan kemarau, begitu kata orang-orang. Kebun-kebun kering, tanah tandus dan sinar Matahari yg panas menyengat menjadi hiasan kehidupan masyarakat pedesaan setiap hari. Kemarau kali ini berlangsung sangat lama, hampir lima bulanan. Puncaknya adalah di bulan November. Kemarau, bukan berarti kering seluruhnya, tetapi ada bagian lain dari dunia yang tidak pernah kering. Ada pohon yang masih menyisakan beberapa helai daun di rantingnya, ada rumput hijau yang bertahan di sengkedan sawah-sawah, dan ada hati manusia yang tetap dingin, sejuk, tenteram dan damai. Lebih-lebih bulan itu adalah bulan kelahiran Nabi besar Umat Islam, Muhammad Shalallahu alaihi waSallam. Kekeringan dan panas terik Matahari tidak membuatnya kering dan tidak pula menghalangi hati orang-orang untuk senantiasa cinta damai terhadap sesama disertai dengan bershalawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad,  penenteram, penyejuk jiwa dan pelipur hati yang lara dengan meneladani Sunnah dan akhlaknya.
Hari Minggu menjadi hari yang pas bagi siapa saja untuk melakukan aktivitas bersama. Beberapa orang meluangkan waktu libur hari Minggu husus bersama keluarga, beberapa orang lainnya menggunakan waktu libur hari minggu untuk jalan-jalan dan lain sebagainya. Hari ini, berhubung masih dalam suasana Maulid Nabi, Rendy dan Aminullah mengisi hari Minggu dengan pergi sowan kepada orang-orang yang pernah mereka temui dan yang dengan tidak sengaja orang-orang itu memberi mereka pelajaran, pelajaran tentang hidup. Barangkali dengan menemui mereka, ada pelajaran lain yang akan mereka dapatkan dari orang-orang hebat itu. Tujuan Pertama, mereka akan sowan ke rumah Ustadz Subahri. Beliau yang setiap selesai Sholat Jumat mengajak mereka diskusi. Kedua, mereka akan sowan ke rumah tukang cukur rambut. Rendy pernah diantar oleh Aminullah ke tempat cukur rambut bulan lalu untuk cukur. Si tukang cukur, dengan tidak sengaja, memberikan mereka pelajaran tentang makna kesucian jiwa lewat cerita-cerita singkat yang mungkin ia ceritakan kepada setiap pengunjung yang bercukur. Dan tujuan yang Ketiga adalah ke rumah bapak penjual roti goreng yang juga tidak sengaja memberinya pelajaran tentang kekuatan doa, doa yang mampu menembus pintu langit dan doa yang dipinta langsung kepada sang pemilik segalanya.
Pagi itu, akibat hujan yang turun tiga hari terakhir berturut-turut, sinar Matahari terasa hangat ditambah dengan udara segar yang berhembus pelan. Jam menunjukkan pukul 07.00. Seperti biasa, kalau libur hari Minggu dan mau jalan-jalan, Rendy yang harus ke rumah Amin, sebab Amin selalu beralasan “kita pakai Vespa aja biar keren, kapan lagi kita bisa enjoy jalan pake Vespa.” Sementara Rendy tidak punya pilihan. Motornya sudah berumur, nggak bisa tahan kalau dibawa jalan-jalan apalagi dibawa boncengan.
“Oia, Rendy. Bapak tadi minta aku untuk ke rumah Hj. Jalil. Beliau nitip makanan untuk beliau. Nanti kita kesana setelah dari rumah pak Tamim, penjual roti goreng. Kebetulan jalannya satu arah.”

“duh! Yang bener, Min. Aku nggak bisa ketemu Ayu, Min. Aku malu, kemarin pas aku murojaah di rumah ustadz Subahri, ada Ayu, dia negur bacaanku yang salah. Aku malu soalnya aku nggak ngegubris tegurannya, aku malah mengulang bacaan sampai tiga kali. Malu aku, Min.”

“siapa juga yang mau ketemu Ayu. Aku mau nganter makanan ke abahnya Ayu. Bukan mau ketemua Ayu.”

Aminullah tertawa dengan respon Rendy itu. Sementara Rendy cengingisan, malu.

Pukul 07.40 dua sahabat itu melaju pelan dengan Vespa yang suaranya dapat menyihir orang-orang sekitar, bisa jadi orang-orang suka atau bisa jadi jengkel dengan suara bising Vespa. 10 menit perjalanan, mereka sudah sampai di depan rumah Ustadz Subahri. Mereka berbincang dengan santai. Ustadz Subahri membawa perbincangan itu kepada hal yang berkaitan dengan Maulid Nabi. Ia lebih banyak bercerita tentang perjalanan hidup Nabi Muhammad, SAW, seorang Nabi yang menjadi guru teladan bagi setiap ummat di setiap zaman, seorang Nabi yang tidak pernah memilki rasa dendam sedikitpun, selalu memaafkan betapapun besar kesalahan orang kepadanya, seorang Nabi yang kesabarannya melebihi penderitaannya dan seorang nabi yang patut menjadi suri tauladan bagi setiap umat manusia. Hampir dua jam berbincang, Rendy dan Aminullah pamit untuk melanjutkan perjalanan.

Dari rumah Ustadz Subahri, mereka menuju Rumah pak Sabari, tukang cukur. Ternyata rumah pak Sabari cukup jauh. Butuh waktu 30 menit untuk sampai di rumahnya dengan kecepatan motor Vespa Aminullah. Perkampungan, ya! Rumah pak Sabari terletak di perbatasan antara kampung Panjalin, dan kampung Geddangan, Rumah pak Tamim dan Hj. Jalil. RUmah pak Tamim dan Hj.Jalil satu arah di jalan kampung Geddangan. Tepat sekali mereka lebih dulu ke rumah pak Sabari. Jadi, perjalanan mereka bisa lebih cepat dan maksimal, tidak muter-muter.

 Akhirnya, mereka sampai di rumah pak Sabari. Mereka disambut baik oleh pak Sabari. Rendy dan Aminullah sudah dibilang sudah akrab dengan pak Sabari. Pasalnya, sejak waktu itu saat Rendy cukur rambut, ia sering berkunjung ke tempat cukur pak Sabari. Kadang Rendy sendiri yang cukur rambut, kadang Rendy membawa temannya yang mau cukur rambut. Rendy merekomendasikan teman-temanya untuk cukur rambut ke Pak Sabari. Selalin ramah, hasil cukuran pak Sabari sangat rapid an bagus, tidak kalah dengan salon mewah di kota.

Setelah Rendy dan Aminullah berbincang dengan menanyakan berbagai hal tentang pak Sabari, kini pak Sabari yang mulai mengeluarkan jurus andalannya. Bercerita atau membincangkan suatu hal yang baru-baru ini viral. Ia poles dengan candaan sehingga siapa yang mendengarnya pasti senang.

“Oia, kalian tau Joker?”

“Iya, Tahu, Pak,” Aminullah yang menjawab.

“Memangnya kenapa dengan joker, Pak?” Tanya Rendy penasaran.

“Coba kalian ingat-ingat kata-kata milik Joker,” pinta pak Sabari.

Sekarang Rendy yang menjawab, “orang jahat terlahir dari orang baik yang tersakiti.”

“Nah! Tepat sekali. Kata-kata Itu sebenarnya sudah cukup lama muncul, tapi viral lagi kira-kira sebelum bulan Rabiul Awal. Awalnya banyak orang sepakat dan menjadikannya pembenaran dalam diri mereka. Mereka mencontoh Joker dalam hal ini. Mungkin karena mereka mengalami hal yang sama seperti pesan yang ada dalam kata-kata itu. Tapi, Jelang satu minggu setelahnya ada meme Joker pakai kopiah hitam dengan caption “Jangan jadi jahat dengan alasan tersakiti, Rosulullah tetap baik meski selalu disakiti”. Nah! Meme itu viral, menandingi meme sebelumnya. Mungkin orang-orang berpikir, yang benar itu adalah meme yang kedua. Mereka mulai sadar bahwa Joker bukan suri tauladan kita, tapi Rosulullah."

Rendy dan Aminullah mangguk-mangguk mendengarnya. Mereka megira Pak Sabari akan bercerita tentang hal ringan dan lucu, ternyata tidak.

“Nak, Rendy, Aminullah, seharusnya kita berterimakasih kepada Joker. Sebab dia telah membangkitkan kecintaan umat Islam kepada Nabi Muhammad dengan memenya. Bukankah satu minggu setelah meme pertama muncul adalah Bulan Robiul Awal, bulan Maulid. Dengan meme yang pertama, orang-orang pada sadar bahwa Rosulullah-lah yang patut ditiru dalam urusan mencintai sesama, dalam urusan memaafkan kesalahan orang lain dan dalam urusan perdamaian. Bukankah begitu nak Rendy, Aminullah?” lanjut pak Sabari sambil tersenyum kepada Rendy dan Aminullah.

Rendy dan Aminullah mangguk-mangguk mendegarnya, heran. Rendy heran, kok bisa bapak tukang cukur ini update berita-berita viral. Padahal dia tidak kemana-mana. Ia hanya menunggu pelanggan yang ingin mencukur rambut. Usut-punya usut, ternyata, dia punya handphone android keluaran terbaru. Dia baru saja mengeluarkannya dari kantong celananya. Tak heran, dimanapun orang berada, sepedalaman apapun rumahnya, kalau sudah punya gadget, dunia seakan di depan mata.

Satu jam setengah obrolan itu berlangsung. Sungguh diluar dugaan. Ekspektasi Rendy dan Aminullah bahwa pak Sabari akan bercerita tentang suatu hal yang lucu, ternyata tidak, obrolannya cukup berat isinya. Sejurus kemudian, 

Rendy dan Aminullah beranjak, pamit dan pergi meninggalkan rumah pak Sabari menuju rumah pak Tamim. 15 menit mereka berdua sudah sampai di halaman rumah pak Tamim. Mereka disuguhi sambutan hangat oleh pak Tamim dan keluarga. Rumahnya sangat sederhana, menghadap ke selatan. Ada langgar kecil di bagian barat halaman. Di depan halaman ada Jalan setapak, sawah yang membentang luas dan bukit kapur agak tinggi, berwarna putih kehitaman. Sungguh ini adalah suguhan yang lebih dari sekedar indah, menenteramkan sejauh mata memandang.

Mereka duduk di langgar, berbincang ringan. Rendy bercerita banyak hal setelah pak Tamim menceritakan kehidupan dan lingkungan di rumahnya. Rendy bercerita tentang niat silaturrahmi hari ini, bahwa kunjungan pertama mereka berdua adalah ke rumah ustadz Subahri, kunjungan kedua adalah ke rumah bapak Sabari, ketiga ke rumah pak Tamim sendiri dan yang terahir ke rumah Hj. Jalil. Rendi juga menceritakan perbincangannya dengan pak Tamim tentang Joker yang berjasa membangkitkan kecintaan orang-orang kepada Nabi Muhammad bahkan seminggu sebelum bulan Maulid datang.

“Kalau begitu, kalian juga harus berterimakasih kepada Ibu Sukmawati Soekarno Putri, Nak Rendy, Nak Amin,” ucap pak Tamim sesaat lamanya Rendy bercerita.

Kedua remaja itu kaget, bertanya-tanya apa jasa yang diberikan Ibu Sukmawati sehingga mereka harus berterimakasih. Bukankah beliau telah dilaporkan ke pihak berwajib sebab disangka telah merendahkan Nabi Muhammad dalam pidatonya. Ah! Sepertinya tidak ada sesuatu yang berhubungan dengan beliau untuk kita berterimakasih.

“Kalau Joker berjasa telah membangkitkan kecintaan orang-orang kepada kanjeng Nabi dengan meme dan captionnya, bukankah Ibu Sukmawati lebih berjasa telah membangkitkan kecintaan orang-orang dengan hinaanya terhadap kanjeng Nabi! Kejadian itu terjadi tepat pada pertengahan bulan Maulid, bukan? Dari ucapan Ibu Sukmawati itu, betapa banyak ulamak dan orang-orang yang mengecam perbuatannya itu. Kecaman itu sebenarnya karena mereka tidak rela Nabi yang dicintainya dihina dan direndahkan. Dari pidatonya itu seolah-olah beliau mengajarkan seluruh umat islam untuk memosisikan derajat Nabi Muhammad diatas siapapun di muka bumi ini walaupun pada kenyataannya memang begitu. Sungguh besar jasa Ibu Sukmawati. Yang lebih besar dari itu, beliau mau dan rela meminta maaf kepada halayak atas perbuatannya itu. Bukankah itu yang diajarkan kanjeng Nabi. Terkadang, kita yang bukan siapa-siapa, enggan untuk meminta maaf atas kesalahan kita kepada orang lain,” jelas pak Tamim menjawab kebingungan dua pemuda di depannya itu.

Rendy dan Aminullah tercengang. Mereka tidak sempat berpikir sejauh itu, yang mereka tahu hanyalah adanya kebencian dari setiap orang terhadap Ibu sukmawati. Mereka tidak menyadari bahwa ada pelajaran dari setiap kejadian baik atau buruk di sekitar kita.

Pak tamim menyuguhkan makanan yang sangat sederhana untuk mereka berdua. Setelah selesai menyantap suguhan itu, Rendy dan Aminullah turun dari langgar untuk melihat-lihat pemandangan sekitar rumah pak Tamim. Sungguh indah. Sawah-sawah sudah mulai menghijau. Tanaman-tanaman di sawah sepertinya masih berumur satu minggu. Mereka mengabadikan pemandangan indah itu dengan berfoto satu-satu dengan pak Tamim. Sesaat lamanya menikmati pemandangan, mereka pamit untuk melanjutkan perjalanan menuju rumah Hj. Jalil, rumah terahir yang akan mereka kunjungi.

Vespa yang dikendarai dua pemuda itu melaju pelan di jalan aspal yang dikelilingi sawah, kanan dan kiri. Jalan itu indah, sejuk meskipun hari sudah siang sebab pohon-pohon rimbun berjejer di sepanjang jalan. Laju Vespa itu semakin pelan, sepertinya mereka masih menikmati keindahan sawah dan jalan yang teduh itu.

10 menit kemudian, mereka sudah sampai ke rumah Hj. Jalil. Namun, sayang Hj. Jalil sedang tidak di rumah. Makanan dari ayahnya Aminullah dititipkan ke Ayu, anaknya. Aminullah yang masuk, sementara Rendy tetap di Vespa, menunggu. Ia hanya melihat dari kejauhan. Ia melihat Ayu juga melihatnya, mungkin Ayu bertanya kepada Aminullah dengan siapa dia kesana. Rendy segera menundukkan pandangan. Ia tidak ingin wajah Ayu semakin besar terlukis dalam hatinya, sebab pertemuannya waktu itu dengan Ayu hanyalah dalam mimpi. Tidak dalam dunia nyata.

Aminullah menghampiri Rendy di atas motor setelah sesaat menitipkan makanan ke Ayu. Aminullah senyum-senyum sendiri sambil melihat Rendy. Rendy curiga, temannya berkata yang aneh-aneh tentang dirinya kepada Ayu.

“Min, ngapain kamu senyum-senyum gitu? Kamu bicara apa ke Ayu? Jangan bilang kau ngasih tau ke Ayu tentang mimpi itu! Min, jangan main-main, Bro!” ucap rendy tampak serius menanggapi senyuman aneh Aminullah.

“Santai, Bro! Gua nggak sejahat itu ke temen gua sendiri. Jadi kamu tenang aja.  Tadi kenapa aku senyum-senyum, itu karea Ayu nitip salam buat kamu, Rend! Wah wah, sepertinya cinta kalian diam-diam dan diam-diam kalian saling mencintai,” ucap Aminullah menggoda Rendy yang seketika gerah mendengarnya.

“yang bener, Min? kamu tidak bohong dan tidak bermaksud mengadu domba, eh … maksudku menjodoh-jodohkan aku sama Ayu, kan!” tanya Rendy penasaran.

“sumpah, Rendy. Ayu nitip salam tadi ke kamu. Dia malah bilang “tetaplah istiqamah memurojaah hafalan”. Kalau kamu tidak percaya, ayo tanya langsung ke orangnya,” guyon Amin.

“Wah, jangan gitu dong, Bro!”

“Udah, Ah! Ayo pulang.” Aminullah mengegas Vespanya. Dua sahabat itu pulang dengan banyak pelajaran yang didapat dan dipungut dijalan.
====
Begitulah kehidupan, sesuatu yang dianggap buruk malah menjadi baik dari sisi yang jarang orang melihatnya. Akhirnya, bulan Maulidurrosul kali ini membawa manusia-manusia dari perjalanannya yang berliku kepada sebuah akhir yang baik dan indah berupa kedamaian dengan saling memaafkan dan keihklasan untuk saling mencintai.
-Bersambung-

Komentar